Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Ahmad Siddik Badruddin mengatakan bahwa untuk mendapatkan hasil lelang yang optimal, pihaknya memastikan kondisi aset tersebut layak dilelang, baik secara fisik maupun kelengkapan dokumen pendukung.
Siddik menambahkan, meski dalam kondisi pembatasan aktivitas sosial, para peserta lelang tetap dapat memiliki akses untuk mencari aset terbaik sesuai dengan kebutuhan. Hal ini karena adanya integrasi portal lelang Bank Mandiri ke dalam Portal Lelang DJKN.
“Integrasi tersebut juga membantu proses lelang dapat dilakukan secara virtual tanpa kehadiran fisik,” kata Siddik.
Lebih lanjut, Siddik mengingatkan agar seluruh jajaran Bank Mandiri dapat terus menjaga koordinasi dan hubungan baik dengan jajaran DJKN dan KPKNL di seluruh Indonesia.
Bank Mandiri juga senantiasa melakukan upaya edukasi kepada nasabah guna menghasilkan success rate lelang yang maksimal.
Selain itu, menurutnya, hubungan baik dengan Badan Pertanahan Nasional (BPN) juga perlu dijaga. Pasalnya, BPN telah mendukung pembuatan Surat Keterangan Pendaftaran Tanah. Dengan demikian, pelaksanan lelang bisa berjalan lancar.
Melalui berbagai kolaborasi tersebut, lanjut Siddik, Bank Mandiri berhasil membukukan pengembalian aset yang sangat baik. Tercatat, sejak Januari 2022, pendapatan Bank Mandiri dari hasil pencapaian laku lelang dan pralelang mencapai lebih dari Rp 100 miliar.
“Menariknya, pelaksanaan lelang serentak itu ternyata mendapat pengakuan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai acara lelang serentak terbesar yang pernah dilakukan,” tutur Siddik.
(RS)

















