Angka Kematian karena Omicron di Indonesia Rendah, Ini Penjelasan Peneliti

Kondisinya kurang lebih sama seperti di Afrika Selatan ketika Omicron pertama kami ditemukan. Terjadi lonjakan kasus tapi angka kematiannya rendah dibanding gelombang sebelumnya. Dalam studi yang dipublikasikan bulan lalu di Jurnal Kedokteran New England, peneliti Afsel memperlihatkan meski 36 persen orang berusia 12 tahun atau lebih sudah menerima satu dosis vaksin di Provinsi Gauteng ketika Omicron pertama kali menyebar, antibodi Covid-19 sudah menyebar luas. Dari peserta survei yang belum divaksin di Gauteng, 68 persen sudah memiliki antibodi Covid-19, dan dari mereka yang sudah divaksin antibodinya sudah 93 persen.

Indonesia belum lama ini mencatat kasus yang lebih tinggi ketimbang saat puncak Delta, tapi angka kematian rata-rata 270 jiwa per hari dibanding 1.800 pada Agustus lalu, menurut Our World Data. Di India, kematian saat puncak Omicron mencapai 1.100 rata-rata per hari pada awal Februari sedangkan pada puncak Delta Mei lalu mencapai 4.200 jiwa per hari.

Seperti belahan dunia lain, baik Indonesia dan India angka kematiannya yang sebenarnya lebih tinggi dari data resmi, namun gambaran data yang ada saat ini sesuai dengan bagaimana kondisi sistem kesehatan yang ada. Tidak seperti tahun lalu ketika rumah sakit kehabisan oksigen dan obat-obatan, kali ini jumlah rawat inap sudah menurun dan sebagian besar pasien Covid-19 isolasi mandiri di rumah dan sembuh. Di Jakarta, sekitar 50 persen kamar rumah sakit hanya terisi 50 persen pada pertengahan Februari saat kasus mencapai puncak.

“Angka kematian tidak separah sebelumnya,” kata Tri Maharani, dokter di sebuah ruang gawat darurat.

Sejumlah peneliti menyebut imunitas dari penularan bertahan lebih lama ketimbang imunitas dari vaksinasi. Dorry Segev, profesor bedah dan kesehatan masyarakat di NYU Langone Health, pusat akademi kedokteran yang memimpin penelitian ini bulan lalu di Jurnal Asosiasi Kedokteran Amerika menemukan, orang yang belum divaksin mampu menjaga imunitas alaminya hingga 20 bulan setelah penularan. Dia menuturkan penelitian lebih lanjut yang sedang dikaji memperlihatkan imunitas ini mampu melindungi dari Omicron. Penelitian di Israel dan Inggris memperlihatkan imunitas dari vaksinasi melemah setelah beberapa bulan.

CDC As mengatakan mereka yang sudah divaksin penuh dan orang yang terinfeksi Covid-19 berisiko rendah tertular setidaknya hingga enam bulan.

Segev menuturkan, masa perlindungan dari imunitas alami bersama vaksinasi berjalan baik di negara seperti Indonesia dan India.

“Kita tahu, imunitas terkuat adalah kekebalan hibrid. Sudah tertular dan ditambah vaksinasi memberikan tingkat perlindungan terbaik,” kata dia. (ib)