JAKARTA, AlurNews.com – Perang antara Rusia-Ukraina belum memasuki minggu keempat. Namun, dampaknya telah terasa sampai ke Timur Tengah.
Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly mengatakan, krisis ini bisa jadi lebih parah dari krisis akibat Covid-19. Tentu saja, hal ini membuat pemerintah gelisah jika terjadi ketegangan di dalam negeri.
Dikutip dari CNN, harga makanan di Mesir naik 4,6 persen sejak bulan Februari.
Di samping itu, inflasi naik menjadi 7,2 persen year on year (yoy). Padahal di bulan Januari, tingkat inflasi ada di angka 6,3 persen.
Pada akhir Februari, saat militer Rusia bergerak di perbatasan Ukraina, harga gandum dunia melonjak ke level tertinggi sejak 2012.
Hal itu menyebabkan harga roti di Mesir melonjak sebanyak 25 persen di beberapa toko.
Diduga, hal ini disebabkan oleh larangan ekspor beberapa biji-bijian oleh Ukraina. Pasalnya, negara yang sedang berseteru dengan Rusia tersebut ingin menjaga pasokan domestiknya.
Belum lagi, salah satu pelabuhan di Ukraina juga diblokade oleh pasukan Rusia.
Adapun, yang paling terpukul adalah negara-negara Timur Tengah yang bergantung pada Rusia dan Ukraina. Seperti diketahui, mereka adalah dua pengekspor biji-bijian utama dunia.

















