PULAU Rempang selain akan menjadi lokasi industri pembuatan kaca panel surya, juga akan dijadikan kampung nelayan moderen terintegrasi pertama di Indonesia.
Menurut kordinator Pusat Unggulan Iptek Sumberdaya Pesisir Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH), Wahyudin, di Rempang Eco City nantinya akan dibangun kawasan kampung nelayan yang terintegrasi.
Dalam master plan yang disusun BP Batam, dibuat zonasi khusus yang memadukan perkampungan nelayan, dermaga, pusat pelelangan ikan dan hasil laut, sertafasilitas penunjang lainnya. Menurut Wahyudin, proyek ini akan menjadi percontohan atau pilot project penataankampung nelayan.
“Di berbagai tempat, fasilitas tersebut umumnya terpisah. Tapi di Rempang, akan menjadi kawasan terpadu yang memiliki nilai tambah ekonomis bagi nelayan dan industri pengolahan hasil laut,” jelas Wahyudin di Batam, Kamis (9/10).
Hampir dua dekade kemudian, pengembangan PulauRempang tampak kian menjanjikan. Masuknya investasi dari Negeri Tirai Bambu seolah menyalakan harap. Investasi Rempang Eco-City pun ditaksir mencapai Rp 381 triliun, serta diperkirakan akan menyerap tenaga kerja langsung.
Secara rinci, pengembangan Pulau Rempang juga akandibagi menjadi 7 zona yang berbeda. Seperti Rempang Integrated Industrial Zone, Rempang Integrated Agro-Tourism Zone, Rempang Integrated Commercial and Residential, Rempang Integrated Tourism Zone, Rempang Forest and Solar Farm Zone, Wildlife and Nature Zone, dan Galang Heritage Zone.
Menurut Wahyudin, tahap pertama pembangunan akan dilakukan di zona industri. Tahapan ini tidak berdampak pada kehidupan nelayan karena bukan dilakukan di areal perikanan tangkap. Tahapan kedua di Desa Blongkeng termasuk zona kawasan perikanan tangkap, akan berdampak pada biota laut.
“Tapi dampaknya tidak terlalu signifikan dan bisa diminimalisir. Demikian pula terhadap nelayan. Daerah tangkapnya luas dan bergantung pada musim. Ada Musim Utara yang sekarang terjadi sampai bulan Februari, nelayan cenderung akan bermigrasi ke daerah yang teduh,” jelas Wahyudin.
Menurut doktor ilmu lingkungan ini, letak geografis Pulau Rempang yang berada di tengah akan menjadi pusatkegiatan perdagangan hasil laut strategis. Fasilitasdermaga dan perdagangan laut yang dimiliki Pulau Rempang akan menyedot nelayan dari berbagai pulau di sekitar untuk bertransaksi di Pulau Rempang.
Demikian pula dengan dibangunnya jembatan yang menghubungkan Pulau Batam, Rempang, dan Galang tak hanya menjadi sarana penghubung saja. Jembatan Barelang juga berperan sebagai sarana penggerak roda ekonomi serta pemerataan pembangunan.
Pengembangan Pulau Rempang tampak kian menjanjikan. Masuknya investasi dari Negeri Tirai Bambu seolah menerbitkan harapan.
Investasi Rempang Eco-City pun ditaksir mencapai Rp 381 triliun, serta diperkirakanakan menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 306 ribu orang.
“Master plan yang dirancang pemerintah untuk Rempang Eco City, menurut saya, tidak meninggalkan nelayan. Posisi nelayan dilindungi, bahkan secara ekonomis akan lebih sejahtera dan moderen. Ribuan pekerja yang akan masuk ke Rempang dari berbagai daerah akan menjadi market tersendiri. Ini harus dikawal,” pungkas Wahyudin.
Dari pantauan media, nelayan Rempang termasuk kategori subsisten. Melaut hanya untuk menenuhi kebutuhan sehar-hari. Sebagaimana disampaikan Wahyudin, nelayan Rempang kategori one day fishing.
Indra, nelayan, di kampung Blongkeng, mengatakan bahwa dia dan tetangganya tidak memiliki modal dan perahu untuk ke laut dalam. “Saya menangkap di laut dangkal. Apa adanya saja. Keluar Rempang perlu modal besar,” pungkas Indra.
Kampung Blongkeng merupakan salah satu dari lima kampung prioritas yang akan digeser. Empat kampung lainnya adalah Pasir Panjang, Sembulang Hulu, Sembulang Tanjung dan Pasir Merah. Pada lima kampung tersebut, terdapat 961 Kepala Keluarga (KK) yang akan bergeser ke Tanjung Banun. (*)