Film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua Disambut Antusias Kepala Sekolah di Batam

Kepala Disbudpar Batam Ardiwinata bersama para kepala sekolah SD dan SMP di Batam foto bersama sebelum pemutaran film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua, Senin (12/1/2026). Foto: Istimewa

AlurNews.com – Ratusan kepala sekolah tingkat SD dan SMP di Kota Batam mengikuti nonton bareng film anak Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua di Cinepolis Mal Botania 2, Senin (12/1/2026) dengan antusias.

Kegiatan ini diikuti sebanyak 166 kepala sekolah dari sekolah negeri dan swasta, serta dihadiri perwakilan Dinas Pendidikan (Disdik) Batam, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Batam, dan Lembaga Studi dan Bantuan Hukum (LSBH) Masyarakat Kepulauan.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Batam, Ardiwinata yang turut hadir mewakili Pemerintah Kota Batam menyambut positif pemutaran film anak yang mengangkat persahabatan, hutan adat, dan suara alam dari Papua.

Ardiwinata mendorong para kepala sekolah untuk menyebarluaskan nilai-nilai yang terkandung dalam film tersebut kepada peserta didik, serta mengajak siswa menontonnya secara langsung.

“Kita dorong agar kepala sekolah menyebarkan nilai-nilai yang ada dalam film ini,” ujarnya.

Menurut Ardiwinata, film merupakan salah satu dari 17 subsektor pariwisata. Karena itu, kehadiran film bertema pendidikan dinilai tidak hanya memperkuat sektor pendidikan, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pariwisata berbasis budaya dan nilai.

Sementara itu, Kepala Seksi Kepegawaian Disdik Batam, Hengki Fitriyanto, yang mewakili Kepala Dinas Pendidikan Batam Hendri Arulan, menyampaikan film Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua dapat dimanfaatkan sebagai media pembelajaran karakter di sekolah.

Ia menilai film bertema pendidikan dan lingkungan sangat dibutuhkan untuk menanamkan nilai kepedulian sejak dini.

“Menjaga alam sekitar adalah bagian dari pelajaran penting di sekolah. Film ini diharapkan menambah pengetahuan anak dan masyarakat,” kata Hengki.

Teman Tegar: Maira – Whisper from Papua merupakan kelanjutan dari film Tegar (2022) karya sutradara Anggi Frisca. Film ini tidak hanya melanjutkan perjalanan karakter Tegar, tetapi juga membuka kisah baru tentang persahabatan anak-anak, krisis iklim, dan perjuangan masyarakat adat menjaga hutan sebagai sumber kehidupan.

Berlatar di pedalaman Papua, film ini mengisahkan Maira, gadis 12 tahun yang hidup berdampingan dengan hutan. Pertemuannya dengan Tegar, anak 11 tahun penyandang disabilitas dari kota, menjadi awal perjalanan yang mengubah cara pandang keduanya tentang alam dan masa depan.

“Film ini bukan hanya tentang menyelamatkan hutan, tapi tentang menyelamatkan cara kita memandang hidup. Kami ingin menyederhanakan isu krisis iklim menjadi cerita anak-anak yang hangat dan membumi,” ujar Anggi Frisca dalam keterangan tertulisnya.

Kesuksesan film Tegar yang diperankan oleh M Aldifi Tegarajasa menjadi fondasi kuat lahirnya film ini. Sejak dirilis pada 2022, Tegar telah ditonton lebih dari 1,7 juta pelajar di lebih dari 4.000 sekolah di Indonesia dan meraih berbagai penghargaan film anak internasional di Rusia, Turki, Iran, India, Prancis, Tiongkok, Hungaria, dan Inggris.

Produser film, Chandra Sembiring, menyebut film sebagai media kampanye yang efektif untuk membangun empati dan kesadaran publik.

“Film masuk ke ingatan orang. Lewat satu film, kita bisa menjangkau jutaan orang dan menggerakkan empati dengan cara yang lebih manusiawi,” kata Chandra.

Ia menegaskan film ini juga mengangkat ketahanan masyarakat adat dalam menghadapi krisis iklim, dengan menempatkan anak-anak sebagai subjek yang memiliki suara dan keberanian.

Diproduksi secara kolaboratif bersama masyarakat Papua, sekitar 70 persen kru film berasal dari anak muda Papua, dengan mayoritas pemeran dari masyarakat lokal. Proses produksi dilakukan di pedalaman Papua dengan melibatkan tokoh adat dan seniman setempat.

Keunikan film ini juga tampak pada pendekatan musikalnya. Penyanyi asal Papua Joanita Chatarine memerankan tokoh Maira sekaligus mengembangkan musik film yang memadukan unsur tradisional Papua dengan orkestrasi sinematik.

“Musik menjadi bahasa universal yang menjembatani cerita, alam, dan emosi,” tutur Anggi. (red)