AlurNews.com – Pembayaran digital melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) terus menunjukkan pertumbuhan signifikan. Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kepri mencatat nilai transaksi QRIS di wilayah tersebut telah mencapai Rp10,25 triliun hingga November 2025.
Kepala Perwakilan BI Kepri Rony Widijarto mengatakan, capaian tersebut melampaui nominal transaksi QRIS nasional yang tercatat sebesar Rp1,2 triliun pada periode yang sama.
“Ini menunjukkan akselerasi digitalisasi sistem pembayaran di Kepri berjalan sangat kuat. Peningkatan terlihat dari jumlah pengguna dan merchant, serta volume dan nilai transaksi QRIS yang terus tumbuh,” ujarnya, Rabu (31/12/2025).
Saat ini BI Kepri sendiri terus mendorong perluasan akseptansi QRIS melalui berbagai kegiatan yang terintegrasi dengan aktivitas masyarakat. Salah satunya dilakukan melalui ajang Creative and Innovative Riau Island Carnival (CERNIVAL).
Selama tiga hari pelaksanaan kegiatan tersebut, tercatat sebanyak 140.026 transaksi QRIS dengan nominal transaksi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp253,6 juta. Angka ini melonjak lebih dari 400 persen dibandingkan capaian pada tahun 2023.
Selain itu, perluasan transaksi digital juga menyasar wilayah perbatasan. Melalui Festival Digital Kepulauan Riau (BERLAYAR) yang digelar di Pulau Belakang Padang, transaksi QRIS tercatat menembus 49.076 transaksi hanya dalam dua hari pelaksanaan.
“Angka ini menunjukkan adopsi pembayaran digital semakin meningkat, termasuk di wilayah terluar Kepri,” jelasnya.
Tak hanya transaksi domestik, BI Kepri juga mencatat pertumbuhan transaksi QRIS lintas negara (cross-border) dengan tiga negara tetangga, yakni Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Hingga November 2025, nominal transaksi QRIS cross-border inbound tercatat sebesar Rp236,89 juta dari Thailand, Rp43,55 miliar dari Malaysia, dan Rp8,43 miliar dari Singapura.
Menurut Rony, implementasi QRIS lintas negara mempermudah transaksi antarnegara sekaligus mendukung peningkatan sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi daerah.
“Penguatan sistem pembayaran digital akan terus kami lakukan secara berkelanjutan untuk membangun ekosistem transaksi yang efisien, inklusif, dan mendukung pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau,” ujarnya. (Nando)

















