AlurNews.com – Wali Kota Batam, Amsakar Achmad mengaku tengah mengupayakan solusi permanen bagi permasalahan air bersih yang tengah dialami warga Tanjungsengkuang, Batuampar, Batam, Kepulauan Riau.
Walau demikian, Amsakar turur menyebut bahwa solusi yang dimaksud saat ini belum dapat dijadikan solusi permanen. Hal itu disebabkan karena instalasi dan berbagai faktor lainnya. Namun, ia memerintahkan kepada pejabat terkait untuk memenuhi kebutuhan air warga.
“Solusi permanen memang belum ada, tapi jangan sampai berhari-hari warga tak dapat air. Ini akan jadi masalah. Makanya saya ingin persoalan ini segera diatasi, dan dicarikan solusinya,” jelas Amsakar, Kamis (8/1/2026).
Untuk itu, Amsakar mengaku telah meminta Deputi Badan Pengusahaan (BP) Batam yang berkaitan dengan infrastruktur guna segera melakukan dialog dengan warga.
“Saya sampaikan kalau Deputi dan Direktur langsung datang ke lokasi. Saya bilang silahkan komunikasikan dengan mereka untuk teknis tahapan mengurai persoalan suplai air bersih di wilayah Tanjungsengkuang. Kalau Walikota juga yang bekerja lebih baik saya jadi Deputi,” ujarnya.
Amsakar Achmad dalam juga memberikan ultimatum kepada PT Air Batam Hilir agar segera menyelesaikan persoalan air bersih di Batu Merah dan Tanjung Sengkuang.
“Persoalan air ini masuk dalam 15 program prioritas unggulan Amsakar-Li Claudia. Saya tidak mau masalah ini terus berlarut-larut,” tegasnya.
Untuk diketahui, krisis air bersih di kawasan Tanjung Sengkuang Kecamatan Batu Ampar, kian memprihatinkan. Air hanya mengalir beberapa jam di tengah malam dengan debit kecil, sementara janji perbaikan dari pemerintah dan pengelola air dinilai tak pernah berujung solusi nyata.
Abdi, warga Sengkuang menyebut kondisi ini sudah berlangsung berbulan-bulan, bahkan lebih dari setahun. Air bersih hanya mengalir sekitar pukul 01.00 hingga 04.00 WIB, itupun dengan tekanan sangat kecil.
“Bukan 10 hari, ini sudah berbulan-bulan. Air hidup paling jam 1 malam sampai jam 4 pagi, itupun kecil,” keluhnya.
Kondisi tersebut berdampak luas, Abdi menjelaskan, khususnya di RW 01: RT 1, 2, 3, dan 5, serta RW 02: RT 1, 2, dan 3, Kelurahan Tanjung Sengkuang. Warga terpaksa menampung air di malam hari, sementara sebagian lainnya bergantung pada suplai air tangki dari PT Air Batam Hilir (ABH) yang dinilai lambat dan tidak merata.
“Sering minta air tangki tapi datangnya lama, bahkan banyak warga tidak kebagian,” jelasnya
Pihaknya menyebut, persoalan air bersih ini sudah tiga kali dibahas dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi III DPRD Batam. RDP terakhir digelar pada Senin (8/9/2025) tahun lalu dan dihadiri langsung Kepala BP Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad. Namun, warga menilai hasilnya nihil.
Ulil Amri, warga Tanjung Sengkuang, mengungkapkan air bersih di wilayahnya hanya mengalir sekitar tiga jam per hari, dengan debit sangat kecil.
“Biasanya hidup jam 2 pagi, jam 5 subuh sudah mati. Itu pun kecil sekali. Sudah lebih dari satu tahun begini dan berdampak ke sekitar 1.500 KK,” jelasnya
Menurutnya, solusi sementara berupa tandon dan air tangki justru menambah persoalan. Selain tidak pasti, warga tetap dibebani tagihan air normal, bahkan terkadang lebih mahal.
Keluhan serupa disampaikan Ketua LPM Batu Merah, Muhammad Yusuf. Ia menegaskan dua kali RDP sebelumnya hanya berakhir pada janji tanpa realisasi.
“Solusinya selalu tandon dan lori air, tapi tidak maksimal. Order kadang baru datang berjam-jam, bahkan besoknya. Warga butuh kepastian, bukan janji,” ujar Yusuf.
Ia menegaskan BP Batam dan PT ABH harus segera bertindak. “Sudah dua kali RDP, dua kali juga hanya janji. Kami butuh tindakan nyata,” tegasnya. (Nando)


















