Puasa Bantu Kelola Stres dan Emosi Lebih Stabil

puasa bantu kelola stres
Ilustrasi. Berbuka puasa. Foto: Freepik.com
AlurNews.com – Puasa di bulan Ramadan tidak hanya bermakna menahan lapar dan dahaga, tetapi juga melatih kemampuan mengendalikan diri serta mengelola emosi. Secara psikologis, praktik ini membantu seseorang menunda dorongan sesaat dan tidak bereaksi impulsif.
Psikolog klinis lulusan Magister Universitas Islam Indonesia, Alifa Fadia Ainaya, menjelaskan puasa memperkuat proses regulasi antara dorongan dan pengambilan keputusan di otak, khususnya pada area prefrontal cortex yang berperan dalam kontrol diri.
“Mekanismenya bekerja melalui proses pembiasaan. Setiap kali seseorang berhasil menahan respons otomatis, terbentuk pengalaman keberhasilan kecil yang meningkatkan self-efficacy,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026), dikutip dari nu.or.id.
Menurutnya, pengalaman tersebut membangun keyakinan bahwa individu mampu mengelola emosi tanpa dikuasai dorongan sesaat. Puasa juga meningkatkan kesadaran diri karena seseorang menjadi lebih peka terhadap kondisi internal seperti rasa lapar, lelah, atau perubahan suasana hati.
Kesadaran ini membantu individu mengenali pola emosi dan pikiran. Selain itu, puasa mendorong refleksi diri atau metakognisi, yakni kemampuan mengamati dan mengevaluasi pikiran sendiri. Dalam praktik psikologi klinis, peningkatan kesadaran diri menjadi fondasi penting dalam perubahan perilaku.
“Puasa juga melatih regulasi stres dengan membiasakan diri menghadapi ketidaknyamanan secara terkendali,” ujarnya.
Dari sisi spiritual, aktivitas seperti salat, zikir, dan refleksi selama Ramadan turut membantu menurunkan kecemasan. Spiritualitas memberi rasa makna dan keterhubungan yang dapat meredakan persepsi ancaman serta menenangkan sistem saraf.
Secara biologis, puasa memengaruhi perubahan hormon seperti kortisol dan insulin, serta regulasi neurotransmiter serotonin dan dopamin. Pola makan yang teratur selama puasa turut membantu menjaga stabilitas gula darah dan suasana hati.
Sejumlah riset juga menunjukkan peningkatan brain-derived neurotrophic factor (BDNF) dalam kondisi tertentu, meski respons tiap individu berbeda.
“Puasa akan berdampak positif bagi kesehatan mental jika dijalani dengan kesadaran, didukung tidur cukup dan nutrisi seimbang,” ujarnya. (red)