Pernah Tempuh 16 KM untuk Sekolah, Amsakar Tak Ingin Anak Hinterland Kehilangan Kesempatan

sekolah anak hinterland
Pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih resmi dimulai melalui prosesi groundbreaking dan pemasangan tiang pancang perdana di kawasan Rempang, Kamis (24/9/2026). (Foto: BP Batam)

AlurNews.com – Pengalaman menempuh pendidikan dengan segala keterbatasan menjadi salah satu alasan Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam Amsakar Achmad mendukung pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Batam, Kepulauan Riau.

Amsakar mengenang masa kecilnya ketika harus berjalan kaki sekitar 4 kilometer untuk bersekolah saat duduk di bangku SD. Memasuki SMP, ia menempuh jarak sekitar 16 kilometer menggunakan sepeda.

“Waktu SD saya jalan 4 kilometer, SMP 16 kilometer naik sepeda. Masuk jam 1, jam 11 berangkat,” kata Amsakar saat groundbreaking Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang, Kamis (24/9/2026).

Baca Juga: Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang Mulai Dibangun, Ditargetkan Rampung Akhir Tahun 2028

Perjalanan untuk mendapatkan pendidikan itu berlanjut ketika Amsakar memasuki jenjang SMA. Ia tinggal bersama pamannya dan harus menempuh perjalanan sekitar 6 kilometer dengan sepeda.

Setelah lulus SMA, keinginan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi semakin kuat. Amsakar bahkan mengaku siap meninggalkan kampung halaman untuk bekerja jika tidak mendapat kesempatan kuliah.

“Kalau saya tidak kuliah, saya akan merantau kerja ke Medan, Surabaya atau Malaysia,” ujarnya.

Pada 1985, Amsakar akhirnya berangkat ke Pekanbaru untuk melanjutkan pendidikan. Ia mengaku menjalani berbagai pekerjaan untuk bertahan hidup, termasuk membuat makalah untuk orang lain dan aktif dalam organisasi.

Pengalaman tersebut kemudian ia kaitkan dengan pembangunan Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang. Menurut Amsakar, sekolah tersebut bukan sekadar pembangunan fasilitas pendidikan, tetapi juga bagian dari upaya membuka kesempatan bagi anak-anak di kawasan hinterland Batam untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

“Yang kita lakukan di wilayah hinterland, wilayah pinggirnya Batam. Batam ini membutuhkan generasi unggul,” kata Amsakar.

Amsakar mengatakan kebutuhan sumber daya manusia di Batam akan terus berkembang seiring pertumbuhan industri. Karena itu, pendidikan menurut dia harus mampu berjalan seiring dengan kebutuhan dunia kerja.

Sejumlah bidang yang dinilai membutuhkan tenaga terampil antara lain logistik, galangan kapal, manufaktur, teknologi informasi, pemrograman hingga tenaga teknik.

“Dengan perkembangan industri sekarang, diperlukan ilmu yang terkait dengan logistik, shipyard, industri manufaktur, IT, programmer, tenaga teknik,” ujarnya.

Ia menilai pendidikan yang diberikan kepada generasi muda perlu mempersiapkan mereka menghadapi perubahan kebutuhan industri.

Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang diharapkan menjadi salah satu sarana untuk membuka akses tersebut, terutama bagi anak-anak dari kawasan hinterland.

Amsakar berharap kelak ada anak-anak dari Galang, Bulang hingga Belakang Padang yang mampu mengambil peran dalam pembangunan Batam dan Indonesia.

“Mimpi saya Indonesia Emas ada anak Galang, Bulang, Belakang Padang yang tampil. Dapat mewarnai perjalanan Batam ke depan,” ujarnya.

Sekolah Terintegrasi Merah Putih mulai dibangun setelah proses pematangan lahan atau cut and fill berlangsung selama sekitar dua bulan. Pembangunan ditandai dengan groundbreaking dan pemancangan tiang perdana di kawasan Rempang pada Kamis (24/9/2026).

Sekolah tersebut berdiri di atas lahan sekitar 18 hektare dan dirancang untuk mengintegrasikan pendidikan jenjang SD, SMP hingga SMA.

Kawasan pendidikan itu juga akan dilengkapi berbagai fasilitas, antara lain asrama, lapangan olahraga, kolam renang, gedung serbaguna, rumah ibadah serta fasilitas penunjang lainnya.

Amsakar berharap seluruh proses pembangunan berjalan sesuai rencana sehingga Sekolah Terintegrasi Merah Putih di Rempang dapat diresmikan pada 2028.

“Mudah-mudahan 2028 bisa diresmikan,” ujarnya.

Ketua Pengurus Yayasan Merah Putih, Eddy Hussy, mengatakan pembangunan sekolah melibatkan sejumlah tenaga profesional. Konsultan pembangunan dipimpin PT Airmas dengan Riza sebagai senior arsitek, serta konsultan di bidang infrastruktur, lanskap, interior dan quantity surveyor.

“Sekolah di sini cukup lengkap. Ada lapangan olahraga, kolam renang, gedung serbaguna, masjid, gereja dan asrama bagi guru dan murid,” kata Eddy.

Ia memastikan penggunaan dana dari para donatur akan dilakukan secara profesional. Pengawasan pembangunan juga dilakukan untuk memastikan kualitas dan waktu pengerjaan sesuai perencanaan.

Eddy mengatakan sekolah tersebut tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat belajar, tetapi juga lingkungan untuk membentuk karakter peserta didik.

“Tak hanya tempat belajar, tapi tumbuh sebagai anak yang bermanfaat bagi bangsa dan negara,” ujarnya.

Direktur Operasional PT MEG, Michael Wilson, berharap sekolah tersebut kelak menjadi tempat lahirnya generasi muda yang mampu mengejar berbagai cita-cita.

“Kami berharap dari ruang kelas ini bisa melahirkan anak-anak yang sukses. Ada yang menjadi dokter, menteri, presiden dan lain sebagainya,” kata Michael. (Nando)