
AlurNews.com — Sebanyak 30 jurnalis mengikuti Lokakarya Merancang Proposal untuk Pendanaan Liputan dalam rangkaian Festival Media (Fesmed) Selat Malaka di Batam, Minggu (20/9/2026).
Kegiatan yang melibatkan Pulitzer Center dan Internews tersebut menghadirkan Detty Saluling dari Pulitzer Center dan Dewi Laila Sari dari Internews sebagai narasumber. Lokakarya ini membahas strategi menyusun proposal liputan, memahami karakter pendanaan, menentukan angle, metodologi, hingga mengukur dampak dari karya jurnalistik.
Detty menjelaskan, jurnalis perlu memahami karakter lembaga pemberi pendanaan (grantor) sebelum mengajukan proposal. Menurutnya, setiap lembaga memiliki fokus isu, bentuk dukungan, serta persyaratan yang berbeda.
Baca Juga:Â AJI Batam Tekankan Etika Liputan Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
“Kesempatan untuk mengajukan proposal banyak sekali. Cari proposal yang cocok untuk kita,” kata Detty.
Ia juga menjelaskan pentingnya membedakan bentuk pendanaan, seperti hibah (grant) dan persekutuan (fellowship). Jurnalis diminta membaca secara menyeluruh informasi pendanaan, termasuk persyaratan dan bagian tanya jawab (question and answer/Q&A), sebelum mengajukan proposal.
Pulitzer Center, kata Detty, lebih berfokus pada liputan mendalam dan isu yang memiliki dimensi sistemik. Karena itu, proposal tidak cukup hanya berisi ide liputan, tetapi juga harus menunjukkan alasan mengapa isu tersebut penting serta nilai tambah yang ditawarkan. “Yang kami baca di proposal yang diajukan, info awal, riset, data, dan akses adalah aset,” ujarnya.
Menurut Detty, jurnalis perlu menjelaskan apa yang membuat sebuah liputan berbeda. Pengalaman, kepakaran, serta akses terhadap narasumber maupun data dapat menjadi kekuatan dalam proposal. “Jual keunikan liputan dan diri Anda. Harus dijual kepakaran yang ada dalam proposal,” katanya.
Dalam materi lokakarya, peserta juga diajak merumuskan ide liputan melalui pertanyaan dasar jurnalistik, yakni apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, dan bagaimana. Kerangka tersebut kemudian dikembangkan menjadi isu, topik, kekhususan, kebaruan, serta tingkat kekritisan sebuah persoalan.
Detty mencontohkan, Pulitzer Center mendukung liputan yang mengungkap penyebab sistemik dari krisis yang kerap diabaikan atau belum menjadi prioritas media. Bentuknya dapat berupa laporan khas (in-depth feature) maupun investigasi yang diharapkan memberikan dampak serta menggugah aksi.
Untuk program Grant Jurnalisme untuk Indonesia 2026–2027, sejumlah isu yang menjadi perhatian antara lain perubahan iklim, lingkungan, kecerdasan buatan (AI), kesehatan, hingga keadilan. Untuk isu lingkungan, prioritas mencakup deforestasi, hak dan tanah ulayat, serta transisi energi.
Dalam penyusunan proposal, peserta juga diperkenalkan dengan sejumlah elemen penting, mulai dari deskripsi proyek, keunikan liputan dan metodologi, rencana publikasi dan distribusi, surat komitmen editor atau kantor berita, perkiraan anggaran, contoh karya yang telah diterbitkan, referensi profesional, hingga daftar riwayat hidup (CV).
Dukungan pendanaan dapat mencakup kebutuhan seperti perjalanan, akomodasi, penerjemah, produksi, visualisasi data, maupun penyewaan peralatan. Namun, jurnalis tetap diminta mempelajari ketentuan dan fokus dari masing-masing program pendanaan.
Selain substansi liputan, aspek keamanan juga menjadi perhatian. Detty menekankan bahwa proposal perlu menjelaskan metodologi dan protokol keselamatan, terutama ketika topik yang diliput memiliki risiko tertentu.
Sementara itu, Dewi Laila Sari dari Internews menekankan pentingnya dampak (impact) dalam sebuah proposal liputan. “Di Internews, dampak itu penting banget. Buat kami, impact itu sangat penting, apakah akan berdampak atau akan memberikan perubahan atau tidak,” ujar Dewi.
Menurutnya, dampak jurnalistik tidak selalu harus diukur dari perubahan kebijakan secara langsung. Jumlah orang yang membaca dan munculnya pembicaraan publik terhadap sebuah isu juga dapat menjadi bagian dari ukuran dampak.
Ia mencontohkan, sebuah karya jurnalistik dapat memunculkan diskursus di tingkat publik dan menarik perhatian pihak-pihak yang terlibat dalam pengambilan keputusan.
“Jadi, artinya kita melihat itu tidak cuma sekadar dari proposal bagus atau tidak, tetapi kita melihat konteks strategi nasionalnya, kemungkinan berubahnya bagaimana,” katanya.
Dewi mengatakan, dalam proses penilaian proposal, Internews juga mempertimbangkan apakah sebuah cerita penting dalam konteks Indonesia serta seberapa besar peluang cerita tersebut memberikan dampak.
Dalam lokakarya tersebut, peserta juga diajak memahami kemungkinan kolaborasi antara jurnalis lokal dan jurnalis nasional. Kolaborasi dinilai dapat memperkuat liputan, terutama ketika isu lokal memiliki relevansi yang lebih luas.
Lokakarya ini menjadi ruang bagi peserta Fesmed Selat Malaka untuk memahami bahwa proposal pendanaan liputan tidak sekadar berisi gagasan jurnalistik. Proposal perlu menunjukkan kebaruan isu, kesiapan riset, metodologi, akses, keamanan, strategi distribusi, serta potensi dampak yang dapat dihasilkan dari sebuah karya jurnalistik. (red)

















