Keluarga Almarhum Abdul Hamid dan Sing Peng Ungkap Kronologi Tertukarnya Jenazah di Rumah Sakit

Keluarga almarhum Abdulk hamid.(alurnews.com)

BATAM, ALURNEWS.COM – Usai diketahui bahwa jenazah Abdul Hamid tertukar dengan warga Tionghoa Sing Peng, hal itu menjadi penyesalan mendalam bagi pihak keluarga atas kelalaian pihak rumah sakit.

Sebelumnya Abdul Hamid dikabarkan meninggal dunia karena mengidap penyakit asma. Setelah itu jenazahnya dibawa oleh tim gugus tugas ke rumah RS Bhayangkara Batam, untuk dilakukan pengecekan apakah dinyatakan positif atau negatif covid.

Namun berselang beberapa lama usai pengecekan dari pihak rumah sakit, jenazah tersebut dibawa ke Tanjung Sengkung dimana tempat saudara Abdul Hamid berada.

Ketua KKSS Kota Batam Masrur Amin mengungkapkan, memang awalnya jenazah AH sudah siap dimakamkan. Namun Tim Gugus tugas tiba dan membawa jenazah ke RS Bhayangkara yang ada di Batam Kota.

“Setelah dilakukan test pertama, maka keluar hasil yang menyatakan negatif. Namun setelah menunggu beberapa lama untuk hasil dari tim gugus tugas, pihak rumah sakit seakan mempersulit pihak keluarga untuk membawa pulang jenazah tersebut,” ungkapnya

Masrur mengungkapkan, ada beberapa hal yang disesalkan oleh pihaknya atas apa yang terjadi. Sebab kelalaian dari pihak rumah sakit yang bisa menyebabkan tertukarnya jenazah Abdul Hamid dengan Sing Peng.

“Kami sangat menyayangkan apa yang terjadi atas kelalaian pihak rumah sakit. Namun saat ini keluarga sudah menerima dengan ikhlas apa yang terjadi menimpa jenazah Abdul Hamid. Mungkin itu takdir dari Yang Maha Kuasa,” tuturnya.

Hanya saja pihaknya juga emngakui kejujuran dari pihak RS Bhayangkara dan pihak terkait sehingga sisa-sisa berupa tulang maupun tengkorak almarhum yang telah dikremasi boleh diambil pihak keluarga.

Selanjutnya pihak keluarga Abdul Hamid akan melakukan prosesi pemakaman sesuatu aturan dalam agama Islam yang dianut pihak keluarga.

“Kami berharap pihak rumah sakit tidak mempersulit proses mengambil jenazah. Sejauh ini kami belum mendiskusikan lebih lanjut apakah ada upaya hukum lainnya yang akan kita tempuh. Tuntutan kita bagaimana pihak rumah sakit membantu korban, mungkin ada sedikit perhatian dari RS. Bhayangkara, namun itu tidaklah menjadi tuntutan yang mutlak,” pungkasnya.

Segera dikremasi

Sementara itu pihak keluarga Sing Peng, melalui sepupu bernama Awi mengatakan, kejadian bermula ketika bapaknya menjenguk jenazah korban ke rumah sakit. Setelah itu bapaknya itu mengambil foto dan akan mengirimkan gambar tersebut kepada keluarganya di kampung.

“Belum sempat terkirim, HP bapak mati. Setelah itu bapak langsung menuju ke rumah duka, setelah jenazah tiba di sana. Saya juga belum sempat melihat jenazahnya, namun karena di istilah Tionghoa mayat yang bujang harus sesegera mungkin dikramasi. Akhirnya jenazah tersebut dikramasi dan saya juga tidak melihat wajah abang,” katanya.