“Pemimpin menurut saya, itu adalah pemimpin yang memang ada di lapangan dan bukan di sosmed (sosial media/media sosial),” kata Puan, Sabtu (22/5/2021).
“Sosmed diperlukan, media perlu. Tapi bukan itu saja. Harus nyata kerja di lapangan,” ujarnya.
Terkait hal ini, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai bahwa Puan dan Ganjar memiliki rivalitas menuju Pemilihan Presiden 2024.
Sindiran Puan terkait sosok gubernur yang tak menyambut dia, menurut Adi, menambah keyakinan publik bahwa Puan dan Ganjar memang berjarak secara politik.
Kemarahan Puan itu seolah semakin menegaskan bahwa hubungannya dengan Ganjar tidak baik-baik saja, apalagi pernyataan Puan disampaikan menggunakan bahasa yang cukup vulgar.
“Intinya ya secara tidak langsung kalau ditafsirkan, Puan ingin mengatakan Ganjar bukan siapa-siapa di PDI-P, kalau bahasa teman-teman PDI-P lain ya anak kos-kosanlah, cuma ngontrak,” kata Adi, Kamis (10/2/2022).
Senada dengan Adi, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, dinamika ini kian memperlihatkan retaknya hubungan Puan dengan Ganjar, serta mempertegas persaingan antara keduanya.
Menurut dia, sangat mungkin Puan merasa tersaingi oleh Ganjar mengingat survei berbagai lembaga menunjukkan bahwa elektabilitas Gubernur Jateng itu jauh mengungguli Puan.
Padahal, Puan merupakan putri dari Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri yang tidak lain adalah partai yang menaungi Ganjar.
“(Hubungan Puan dengan Ganjar) sedang retak, bahkan patah. Karena Puan tak mau ada matahari kembar soal pencapresan di PDI-P,” kata Ujang, Jumat (11/2/2022).
(RS)
















