Rupiah Tertekan, APPEKNAS Desak Pemerintah Jaga Sektor Konstruksi

sektor konstruksi APPEKNAS
Dewan Pakar Ekonomi, Industri dan Investasi DPN APPEKNAS, Bonardo T Sianturi. Foto: Dok. APPEKNAS

AlurNews.com – Dewan Pengurus Nasional Asosiasi Pengusaha Pelaksana Kontraktor dan Konstruksi Nasional (DPN APPEKNAS) mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk menjaga sektor konstruksi setelah nilai tukar rupiah tertekan hingga menyentuh Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan biaya proyek, harga material, hingga mengganggu keberlangsungan investasi dan pembangunan infrastruktur.

Dewan Pakar Ekonomi, Industri dan Investasi DPN APPEKNAS, Bonardo T Sianturi, mengatakan pelemahan rupiah tidak bisa dipandang sebagai persoalan pasar keuangan semata.

Menurutnya, sektor konstruksi menjadi salah satu bidang yang paling rentan terdampak akibat ketergantungan terhadap bahan baku, alat, dan komponen impor.

“Yang harus dijaga bukan hanya angka kurs, tetapi juga keyakinan rakyat bahwa negara tetap memegang kendali,” ujarnya, Kamis (21/5/2026).

Ia menilai pemerintah perlu segera memperkuat stabilisasi ekonomi agar dunia usaha, khususnya sektor konstruksi, tidak semakin terbebani oleh lonjakan biaya operasional dan ketidakpastian pasar.

APPEKNAS meminta pemerintah menjaga kepercayaan pasar melalui kebijakan yang konsisten, disiplin anggaran, serta komunikasi ekonomi yang satu suara.

Selain itu, pemerintah juga diminta memperkuat pasokan dolar melalui peningkatan ekspor, optimalisasi devisa hasil ekspor, pengendalian impor yang tidak mendesak, dan percepatan investasi produktif.

“Pemerintah harus menjaga kepercayaan pasar, menajamkan belanja negara, serta memperkuat pasokan dolar melalui ekspor, devisa hasil ekspor, pengendalian impor yang tidak mendesak, dan percepatan investasi produktif,” katanya.

Menurut Bonardo, tekanan terhadap rupiah berpotensi memengaruhi daya tahan kontraktor dan pelaku usaha konstruksi. Jika kondisi terus berlanjut, biaya impor material dan energi dapat meningkat, sementara proyek pembangunan terancam mengalami perlambatan.

“Jika rupiah terus melemah, biaya impor naik, harga energi dan pangan berisiko tertekan, dunia usaha menjadi lebih hati-hati, dan beban rumah tangga bisa bertambah,” ujarnya.

Dalam pernyataannya, APPEKNAS juga meminta pemerintah lebih memprioritaskan belanja negara untuk menjaga sektor produktif, melindungi daya beli masyarakat, serta mempertahankan lapangan kerja di tengah tekanan ekonomi global.

APPEKNAS menilai penguatan rupiah tidak cukup hanya melalui intervensi pasar, tetapi harus dibarengi dengan penguatan struktur ekonomi nasional, peningkatan produksi dalam negeri, dan iklim investasi yang sehat.

“Rupiah yang kuat tidak lahir hanya dari intervensi pasar, tetapi dari ekonomi yang dipercaya, APBN yang disiplin, produksi nasional yang kuat, ekspor yang meningkat, dan rakyat yang merasa dilindungi,” kata dia. (red)