UMKM Kepri Tembus Pasar Global, Sambal Sijago Bidik Australia dan Amerika

UMKM Kepri Sambal Sijago
Sejumlah UMKM Kepri mengikuti Pameran Karya Kreatif Indonesia 2026 di JICC. Foto: Dok. BI Kepri

Alurnews.com – Pameran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 menjadi panggung bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Kepulauan Riau (Kepri) untuk memperluas pasar hingga mancanegara. Sejumlah UMKM unggulan Kepri bahkan mulai membuka peluang ekspor ke Australia, Amerika Serikat, hingga Italia.

Peluang tersebut muncul melalui rangkaian business matching (BM) ekspor yang menjadi bagian dari KKI 2026 yang digelar Bank Indonesia di Jakarta International Convention Center (JICC), 20–23 Agustus 2026.

Salah satu UMKM yang berhasil membuka peluang pasar baru adalah Sambal Sijago, pelaku usaha makanan dan minuman asal Kepri. Dari hasil business matching, produk Sambal Sijago berpeluang masuk ke pasar Australia dan Amerika Serikat.

Baca Juga: BI Kepri Kendalikan Inflasi dengan Urban Farming dan Pemberdayaan UMKM

Sementara dari sektor wastra, Putri Anjani juga mendapat peluang untuk memperluas pasar ke Italia.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau, Rony Widijarto P mengatakan keikutsertaan UMKM Kepri dalam KKI menjadi bagian dari upaya memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

Pada KKI 2026, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kepulauan Riau (KPw BI Kepri) membawa 23 UMKM unggulan yang telah melalui proses kurasi. Produk yang ditampilkan mencakup makanan dan minuman, wastra dan fashion, craft, hingga home decor.

“Dari karya lokal menuju pasar global, melalui gelaran KKI Bank Indonesia berupaya menunjukkan kualitas UMKM nasional yang layak untuk didukung dan dikembangkan,” demikian disampaikan KPw BI Kepri dalam keterangan tertulisnya.

KKI 2026 sendiri mengusung tema “Penguatan Sinergi untuk Mendorong UMKM Bangkit, Tangguh, dan Berdaya Saing”. Gelaran yang memasuki penyelenggaraan ke-11 tersebut diikuti lebih dari 550 UMKM secara luring dan lebih dari 1.300 UMKM melalui pameran daring.

Secara nasional, nilai penjualan sementara KKI 2026 hingga 23 Agustus mencapai Rp177,2 miliar, meningkat 35 persen dibandingkan capaian tahun sebelumnya. Dari angka tersebut, UMKM Kepri menyumbang penjualan sebesar Rp5,3 miliar.

Produk ready to wear menjadi penyumbang terbesar penjualan UMKM Kepri. Selain itu, produk wastra dan kuliner khas Kepri juga menunjukkan peningkatan omzet selama pameran.

Tak hanya penjualan, akses UMKM Kepri menuju pasar ekspor juga semakin terbuka. Secara keseluruhan, business matching ekspor KKI 2026 mencatat nilai Rp169,9 miliar dengan melibatkan 192 UMKM dan buyers dari 16 negara.

Dari sisi pembiayaan, business matching yang mempertemukan UMKM dengan lembaga perbankan mencapai Rp285 miliar. Nilai tersebut meningkat 30,3 persen dibandingkan rata-rata tiga tahun terakhir.

Bagi Kepri, pengembangan UMKM memiliki arti strategis. Letak wilayah yang berada di kawasan perbatasan dan jalur perdagangan internasional menjadi modal penting untuk mendorong produk lokal menembus pasar yang lebih luas.

Karena itu, BI Kepri tidak hanya membawa UMKM untuk mengikuti pameran, tetapi juga menjalankan sejumlah program penguatan kapasitas usaha. Program tersebut antara lain on boarding UMKM digital, export coaching program, business matching ekspor, pendampingan sertifikasi halal, serta business matching pembiayaan dengan perbankan.

Program tersebut diarahkan agar UMKM tidak berhenti pada kemampuan memproduksi barang, tetapi juga mampu memenuhi standar pasar, mengakses pembiayaan, memanfaatkan kanal digital, dan membangun jaringan pemasaran hingga luar negeri.

KKI 2026 juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kekayaan produk khas Kepri, mulai dari kuliner hingga ragam tenun Melayu. Beberapa UMKM unggulan yang turut tampil antara lain Rumah Tenun Lingga, Sambal Sijago, Kenara, Narata, Isna Puring, dan Iluh Craft.

Secara nasional, Bank Indonesia menempatkan pengembangan UMKM sebagai salah satu bagian penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Strategi tersebut dilakukan melalui penguatan kapasitas dan skala usaha, perluasan akses pasar dan pembiayaan, serta akselerasi digitalisasi.

Dengan peluang ekspor yang mulai terbuka dan nilai transaksi yang terus tumbuh, UMKM Kepri menunjukkan bahwa produk daerah memiliki potensi untuk bersaing di pasar nasional maupun global.

Tantangannya kini bukan lagi sekadar menghasilkan produk, tetapi memastikan kualitas, kapasitas produksi, sertifikasi, kemasan, dan kontinuitas pasokan mampu memenuhi kebutuhan pasar internasional. (Nando)