Pangdam Soroti Kampung Nelayan dan Pertahanan Perbatasan, Pangdam : Jangan Ganggu Pekarangan Kami

Panglima Kodam (Pangdam) XXV/Sultan Mahmud Riayat, Mayjen TNI Rionardo. (Foto: AlurNews)

AlurNews.com – Paska dibentuk, Panglima Kodam (Pangdam) XXV/Sultan Mahmud Riayat, Mayjen TNI Rionardo mulai memetakan sejumlah agenda prioritas setelah tiba di Kota Batam, Kepulauan Riau (Kepri).

Selain memperkuat pertahanan di wilayah perbatasan, ia menyoroti pengembangan kampung nelayan sebagai upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Rionardo mengatakan, alasan pembentukan Kodam di wilayah Kepri salah satunya dikarenakan memiliki karakteristik dan kebutuhan tersendiri.

“Melihat situasi dan kondisi Kepri ini adalah kepulauan, maka yang paling vital untuk segera mempercepat dan mendukung kesejahteraan masyarakat adalah bagaimana kampung nelayan ini juga bisa berdampak positif dan meningkatkan perekonomian masyarakat,” jelasnya saat mendarat di Bandara Internasional Hang Nadim Batam, Selasa (20/10/2026) siang.

Menurutnya, pengembangan kampung nelayan menjadi salah satu program yang perlu mendapat perhatian serius. Potensi wilayah pesisir Kepri dinilai dapat menjadi kekuatan untuk mendorong perekonomian masyarakat apabila didukung program yang tepat.

Selain itu, Rionardo menyebut pembangunan Batalyon Infanteri Teritorial Pembangunan (Yonif TP) juga menjadi salah satu agenda yang perlu disukseskan. Pelaksanaannya akan dilakukan melalui koordinasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak.

“Kami akan berkolaborasi dengan berbagai unsur, mulai dari kepolisian, TNI Angkatan Laut, hingga pemerintah daerah,” ujarnya.

Di sisi lain, Rionardo menegaskan posisi strategis Kepri sebagai wilayah perbatasan membuat penguatan pertahanan negara menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Sebagai Pangdam pertama di wilayah tersebut, ia menilai penguatan satuan-satuan TNI perlu dilakukan untuk memastikan pelaksanaan tugas pertahanan berjalan optimal, dengan tetap memperhatikan kebijakan dan ketersediaan anggaran.

“Dalam undang-undang, TNI tentunya sebagai komponen utama dalam hal pertahanan. Nah, itu yang kita perkuat dan kita memperkuat sejalan dengan itu kita membentuk satuan-satuan yang kita perkuat,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan penguatan pertahanan bukan berarti Indonesia ingin mencari permusuhan dengan negara lain. Menurutnya, hubungan baik dengan semua pihak tetap harus dijaga, tanpa mengesampingkan kedaulatan negara.

“Kita tidak ingin mencari musuh, karena prinsipnya seribu kawan itu kurang, satu musuh itu lebih dari, sudah sangat banyak. Sehingga kita tidak ingin bermusuhan dengan siapa pun. Tetapi yang perlu kita garisbawahi, jangan ganggu pekarangan kita. Kita ingin negara kita ini sejahtera, kita ingin rakyat kita makmur. Jadi kalau kita ingin rakyat kita makmur, tolong jangan diganggu rakyat kita,” ujarnya.

Selain penguatan satuan dan program kemasyarakatan, pembangunan Markas Komando Daerah Militer (Makodam) XXV/Sultan Mahmud Riayat menjadi salah satu pekerjaan yang perlu dituntaskan.

Rionardo mengungkapkan, berdasarkan informasi yang diterimanya, lahan untuk pembangunan markas tersebut berada di kawasan Tembesi, Batam dengan luas sekitar 11,7 hektare.

Lahan itu direncanakan untuk menampung kompleks Makodam beserta berbagai unsur pendukung atau badan pelaksana yang diperlukan dalam operasional komando daerah militer.

“Informasi yang kita dapat itu ada di daerah Tembesi, sekitar 11,7 hektare. Itu untuk pembangunan Makodam lengkap dengan balak-balaknya, badan pelaksanaan. Jadi ada unsur-unsur pendukung di situ,” jelasnya.

Sementara itu, Gubernur Kepri Ansar Ahmad menyambut kehadiran Kodam XXV/Sultan Mahmud Riayat sebagai bagian dari upaya memperkuat pertahanan dan keamanan di wilayah perbatasan.

Menurut Ansar, Kepri memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang Indonesia di wilayah barat. Kondisi tersebut menuntut penguatan kelembagaan pertahanan dan keamanan secara berkelanjutan.

“Karena bicara kedaulatan, bicara keutuhan negara kan satu hal yang tak bisa ditawar-tawar, harga mati,” ujarnya. (Nando)