AlurNews.com, Batam – Perayaan Hari Raya Idul Fitri 1443 Hijiriah/2022, saat ini masih diwarnai dengan silahturahmi baik antar keluarga, teman, kerabat, hingga rekan kerja.
Sajian seperti opor ayam, lontong, rendang, hingga berbagai jenis kue dan minuman tentunya menjadi sajian bagi para tamu yang datang berkunjung.
Namun hal ini akan sedikit berbeda saat anda memiliki kerabat ataupun teman yang merupakan warga asli pesisir Kota Batam, Kepulauan Riau.
Salah satunya seperti suasana yang akan dirasakan saat anda berkunjung ke Desa Pasir Panjang, Kelurahan Rempang Cate, Kelurahan Galang.
Selain suasana yang jelas berbanding terbalik dengan suasana di kawasan Mainland Kota Batam, sajian yang dihidangkan bagi tamu tentu saja juga akan berbeda.
“Berlibur sambil bersilahturahmi ke tempat teman yang tinggal di kawasan pesisir tentu saja salah satu cara healing yang baik bagi warga yang setiap hari beraktifitas di Batam,” jelas Habibi salah satu warga Sei Panas, saat ditemui di kawasan Desa Pasir Panjang.
Konsep berlibur sambil silahturahmi ini, langsung terlihat dari aktifitas Habibi bersama rekan-rekannya, saat tiba sekitar pukul 13.30 WIB.
Disambut dengan hangat oleh keluarga temannya, Habibi dan rekan-rekannya kemudian diajak menuju tempat khusus seperti pondok yang berada tidak jauh dari pesisir pantai.
Namun suasana kawasan ini, tentu saja berbeda dengan suasana pantai lain yang biasanya penuh dengan aktifitas warga yang mengisi waktu berliburnya.
“Serasa pantai milik pribadi kalau kami kesini setiap Lebaran. Lihat saja suasananya sepi, dan hanya ada saya dan keluarga teman yang kami kunjungi,” lanjutnya.
Suasana ramah tamah yang berlangsung kurang lebih 30 menit, kemudian berubah menjadi riuh saat tuan rumah membawa hidangan utama bagi temannya yang datang dari kawasan Mainland.
Tidak berupa ketupat yang disajikan dengan ketupat atau rendang, namun sajian yang dibawa merupakan tiga ekor ikan berukuran besar seperti Bawal.
“Memang begini tiap tahun, karena kita tahu tamu yang datang dari Batam kesini tentu membutuhkan perjuangan yang lebih karena jalan yang ditempuh tidak dekat. Makanya kami yang di pesisir dan mayoritas nelayan, selalu menyediakan ikan untuk dibakar dan dimakan bersama,” jelas Islah warga Desa Pasir Panjang.
Namun, Islah juga menerangkan bagi teman-temannya yang datang berkunjung, wajib untuk memberitahukan waktu kedatangannya, hingga wajib untuk membawa bumbu bagi ikan bakar.
“Karena biasanya ikan yang sudah ditangkap akan langsung dijual. Kalau dikasih tahu mau datang, tentu akan disisihkan dulu. Tapi mereka wajib bawa bumbunya sendiri dong,” ujarnya sambil tertawa.
Keakraban antara tamu dan tuan rumah ini semakin erat, saat bersama-sama mempersiapkan tempat untuk membakar ikan hasil tangkapan tersebut.
Saling bantu baik dalam menyiapkan lokasi membakar ikan di pinggir pantai, mencari kayu, hingga upaya menghidupkan api, menjadi pemandangan yang meninggalkan bekas mendalam bagi tamu yang datang dari Kota Batam.
“Capek selama perjalanan terbayar begitu sampai disini. Soalnya kita memang menikmati waktu bersama dengan suasana pantai yang tenang tanpa banyak orang,” ucap Habibi.
Tidak hanya itu, aktifitas mendokumentasikan kegiatan untuk keperluan media sosial, juga tidak ketinggalan dilakukan oleh Habibi dan rekan-rekannya.
“Walau daerah pesisir, disini jaringan telekomunikasi lumayan kencang kok. Walau memang hanya beberapa provider tertentu saja,” papar Habibi.
Sementara itu, menjadi warga yang tinggal di Pesisir, Idul Fitri kali ini juga meninggalkan kesan mendalam bagi warga Desa Pasir Panjang.
Pasalnya, kini warga sudah dapat menikmati aliran listrik kurun waktu dua bulan belakangan.
“Jadi sembari bakar ikan dan senda gurau seperti ini. Kami bisa menghidupkan musik karena listrik sudh ada,” tambah Islah.
NB

















