
AlurNews.com – Direktur Biomassa PLN Energy Primer Indonesia (PLN EPI), Hokkop Situngkir melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Karimun, Kepulauan Riau.
Kunjungan kerja selama dua hari dari tanggal 9 dan 10 Februari 2026 itu guna melihat penerapan bahan bakar kelistrikan yang ada di Kabupaten Karimun di beberapa titik atau lokasi.
Pada hari pertama, Hokkop Situngkir beserta rombongan melihat langsung lokasi produksi listrik PLTU Tanjungbalai Karimun, mulai dari jeti unloading bahan bakar sampai dengan masuknya bahan bakar ke mesin pembangkit listrik.
“PLTU jenis stocker ini sudah mumpuni untuk cofiring biomassa, namun masih ada sarana dan prasarana pendukung yang harus ditingkatkan, sehingga proses cofiring di PLTU bisa lebih baik,” ujarnya, Senin (9/2) lalu.
Kata dia, secara bertahap ke depan energi hijau melalui biomassa akan lebih berperan dalam menjalin pasokan listrik untuk masyarakat.
”Dengan semakin tumbuhnya pemakaian bahan bakar biomassa akan berpengaruh positif terhadap circulare pertumbuhan ekonomi kerakyatan dilingkungan wilayah PLTU,” terang dia.
Menurut Hokkop, dengan kondisi mesij PLTU Tanjungbalai Karimun yang mumpuni ini, sangat memungkinkan pelaksaan cofiring dengan bahan bakar biomassa dari target tahun 2026 sebesar 6 ribu ton per tahun. Dan dapat ditingkatkan hingga 40 ribu ton per tahun pada tahun-tahun mendatang.
Mengingat kata Hokkop pada tahun 2024 lalu, PLTU Tanjungbalai Karimun telah melakukan uji coba cofiring dengan bahan bakar wood chip hingga 100 persen.
”Pemenuhan pasokan biomassa di PLTU Tanjungbalai Karimun saat ini telah dilaksanakan oleh PT BEST YPK PLN (anak perusahaan YPK PLN / group afiliasi PLN) dari hasil produksi beberapa sumber di beberapa lokasi Kepulauan Riau,” ungkapnya.
Pada kunjungan kerja itu, Direktur Biomassa PLN EPI, Hokkop juga menyempatkan berkunjung ke Pusat Listrik Bahan Bakar Synthetic Gas hybrid Solar Cell milik Karimun Power Plant (KPP) yang melayani kelistrikan di kawasan khusus industri di Tanjung Balai Karimun.
Dimana, syntethic gas pada pembangkit KPP ini diproduksi dari bahan baku kayu wood chip melalui proses reaktor gasifier, sehingga menghasilkan gas synthetic yang ramah lingkungan dan memenuhi syarat untuk bahan bakar mesin pembangkit listrik KPP dengan kapasitas terpasang 2 x 500 KW.
Kemudian, pada hari kedua tepatnya tanggal 10 Februari 2026, pihaknya melanjutkan kunjungan ke Pulau Kundur di Pembangkit Listrik Synthetic Gas kapasitas terpasang (3 x 500 KW) milik PT PGI yang sudah berotasi sejak tahun 2017 dengan daya mampu rata-rata 1.000 KW.
Beroperasinya Pembangkit Listrik Synthetic Gas di Pulau Kundur ini, menjadi contoh nyata terlaksananya program kemandirian energi mulai dari sisi hulu berupa penyediaan hutan tanaman energi masyarakat setempat hingga hilir berupa pengolahan hasil wood chip yang menjadi bahan baku pokok proses gasifier produksi Synthetic gas, yang sekaligus menjadi bagian program Dediselisasi di PLN secara bertahap.
”Program Pembangkit Listtik Synthetic Gas ini merupakan salah satu pilihan yg tepat diimplementasikan di daerah-daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) di wilayah Indonesia yang sekaligus menjadi bagian percepatan program Dediselisasi Nasional,” sebutnya.
Ia menilai, program ini sekaligus akan menumbuhkan circular ekonomi masyarakat di daerah-daerah setempat, di mana masyarakat setempat menjadi bagian penting yang akan ikut terlibat dalam dukungan penyiapan hutan tanaman energi yang hasil produksi kayunya bisa terjaga berkesinambungan jangka panjang.
”Ini juga sekaligus untuk terwujudnya bauran energi yang ramah lingkungan di mana limbah dai produksi synthetic hasil ini adalah karbon aktif yg dapat dipergunakan untuk memperbaiki hara kesuburan tanah setempat,” ujarnya. (Andre)

















