Kenaikan Harga BBM Industri di Batam Ancam Picu Lonjakan Harga Barang

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (DPC ALFI) Kota Batam, Yasser Hadeka Daniel. (Foto: AlurNews)

AlurNews.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) industri di Kota Batam mulai memicu kekhawatiran pelaku usaha logistik terhadap potensi lonjakan harga barang kebutuhan masyarakat.

Pelaku usaha menilai kenaikan harga BBM jenis Pertamina Dex dan Dexlite yang hampir dua kali lipat telah meningkatkan biaya distribusi secara signifikan, sehingga berpotensi berdampak langsung pada harga bahan pokok dan barang konsumsi di pasaran.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (DPC ALFI) Kota Batam, Yasser Hadeka Daniel mengatakan lonjakan harga BBM membuat biaya operasional distribusi tidak lagi dapat ditanggung tanpa penyesuaian tarif.

“Selama ini kami berusaha menahan kenaikan tarif karena dampaknya langsung dirasakan masyarakat. Namun dengan kenaikan BBM saat ini, kondisi itu sudah sangat berat,” jelasnya, Sabtu (18/4/2026).

Menurut dia, harga Pertamina Dex yang sebelumnya berada di kisaran Rp 14.800 per liter kini naik menjadi sekitar Rp 24.000 per liter. Sementara itu, Dexlite meningkat dari Rp 14.500 menjadi Rp 24.150 per liter. Kenaikan tersebut, kata Yasser, membuat biaya transportasi distribusi melonjak tajam.

Sebagai contoh, biaya angkut barang dari kawasan Batu Ampar menuju Muka Kuning yang sebelumnya sekitar Rp 900.000 per perjalanan kini berpotensi naik menjadi Rp 1,8 juta.

“Ini tentu akan berimbas ke harga barang di tingkat konsumen,” ujarnya.

Yasser menjelaskan, sebagian besar komoditas di Batam masih bergantung pada pasokan dari luar daerah, seperti Jakarta dan Belawan, serta impor dari Singapura dan negara lain.

Ketergantungan terhadap pasokan luar wilayah membuat struktur biaya logistik di Batam sangat sensitif terhadap perubahan harga BBM.

Di sisi lain, pelaku usaha logistik di Batam juga menghadapi tantangan karena diwajibkan menggunakan BBM non-subsidi, berbeda dengan sejumlah daerah lain yang masih dapat mengakses BBM subsidi dengan harga lebih rendah.

Menurut dia, bahkan sebelum kenaikan terbaru, harga BBM yang digunakan pelaku logistik di Batam sudah berada di kisaran Rp 13.000 hingga Rp 14.000 per liter.

“Kalau dibandingkan daerah lain yang masih memakai BBM subsidi, tentu beban kami jauh lebih tinggi,” ujarnya.

ALFI Batam memperkirakan dampak kenaikan biaya distribusi tidak hanya dirasakan sektor logistik darat, tetapi juga jasa distribusi laut, termasuk layanan pandu dan tunda kapal.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga sembako dan kebutuhan pokok lainnya di tengah masyarakat.

Karena itu, pihaknya membuka ruang dialog dengan BP Batam dan Pertamina untuk mencari solusi agar kenaikan biaya operasional tidak semakin membebani dunia usaha dan masyarakat.

“Kami berharap ada kebijakan yang bisa meringankan, termasuk kemungkinan akses BBM subsidi bagi pelaku logistik, agar harga barang tetap stabil,” jelasnya. (Nando)