Tanah Warisan Jadi Ladang Solar Panel Demi Mimpi Warga Pulau Sembur Menikmati Listrik

Petugas menyambung aliran listrik di salah satu rumah warga di Pulau Sembur, Kecamatan Galang, Kota Batam. Masyarakat setempat kini teraliri listrik 24 jam melalui solat panel.

AlurNews.com – Mata berkaca-kaca dan senyum bahagia kembali menghiasi wajah Ghazarman, pria berusia 60 tahun warga asli Pulau Sembur, Kecamatan Galang, Batam, Kepulauan Riau. Saat menceritakan bagaimana dirinya mengingat senyum anak-anak asli pulau nelayan tersebut pada Selasa (25/8/2026) silam.

Bagaimana tidak, pada hari yang dimaksud seluruh warga di kampung nelayan ini akhirnya bisa menikmati listrik selama 24 jam. Bagi mereka dapat menikmati listrik sepanjang hari adalah mimpi yang akhirnya terwujud setelah lima generasi.

Ghazarman yang dapat dikategorikan sebagai tokoh, serta salah satu nelayan yang beruntung karena memiliki tanah warisan dari orangtuanya. Akhirnya memilih untuk menghibahkan tanah seluas 3 hektare sebagai ladang untuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Kini lahan yang dimaksud telah dipenuhi oleh solar panel, serta bangunan sebagai pusat kontrol.

“Merelakan tanah warisan itu bukan perkara mudah, namun ini demi mewujudkan mimpi kami warga kampung yang sudah lima generasi selalu menikmati kegelapan saat malam menjelang,” ujar Ghazarman saat ditemui di Pulau Sembur, Jumat (9/10/2026).

Ghazarman menjelaskan, menghibahkan tanah warisan orangtuanya juga sebagai bentuk meneruskan harapan nenek moyangnya yang telah menetap di Pulau Sembur sejak tahun 1910. Langkah yang diambil oleh Ghazarman, kini menghadirkan perubahan besar bagi masyarakat pesisir yang selama ini merasa jauh dari layanan dasar.

Sejak nenek moyangnya menetap di Pulau Sembur sebagai nelayan, penerangan di saat malam menjadi sesuatu yang harus diusahakan. Pada masa itu, sebagian warga yang dianggap berada hanya mengandalkan lampu petromak.

Bahkan kondisi kampung yang hanya diterangi lampu petromak, lilin, hingga obor bertahan hingga tahun 2001. Pada tahun ini, para nelayan yang masuk kategori berada mulai beralih memasang kelistrikan di rumahnya dengan mengandalkan kekuatan mesin genset.

“Tahun 2001 bagi mereka yang bisa dikatakan berada, mulai beralih menggunakan genset. Mereka memasang jalur listriknya sendiri. Kegelapan di saat malam merupakan teman saya dari kecil,” kenangnya.

Namun hingga bulan Agustus 2026, penggunaan genset sebagai pembangkit listrik disebut bukan merupakan solusi bagi warga kampung. Ghazarman menyebut bahwa mesin genset hanya dapat bertahan selama 4 jam saja.

Biasanya mesin genset baru dioperasikan sejak pukul 18.00 WIB, dan hanya bertahan hingga pukul 22.00 WIB setiap harinya. Bagi warga lainnya yang juga ingin menikmati listrik namun tidak memiliki genset, juga dapat menumpang di genset tetangganya dengan syarat menyumbang Rp5 ribu per hari.

“Karena di masa genset prinsipnya saling membantu, dengan biaya itu digunakan untuk biaya operasional. Mulai dari pembelian BBM, pemasangan instalasi listrik secara mandiri, hingga untuk biaya operator genset yang berjaga tiap malam,” jelasnya.

Kondisi ini membuat aktifitas warga harus menyesuaikan dengan ketersediaan listrik. Anak-anak, misalnya, memiliki waktu terbatas untuk belajar pada malam hari. Sementara itu, aktivitas rumah tangga juga bergantung pada kapan genset mulai dinyalakan dan dimatikan.

Menurut Ghazarman, warga telah berulang kali menyampaikan kebutuhan listrik dan air bersih dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) Kota Batam. Mereka juga pernah mengupayakan solusi melalui berbagai pihak, termasuk melaporkan persoalan tersebut kepada PLN.

Namun, menurutnya kondisi geografis Pulau Sembur yang terpisah oleh laut menjadi salah satu kendala. Sementara itu, untuk penggunaan mesin genset juga membutuhkan biaya maintance yang tidak sedikit.

“Datuk kami sudah tinggal di sini sejak 1910. Pemerintah daerah melihat kami seperti anak tiri. Setelah program ini, Sembur baru menyala. Kepada pemerintah daerah, pandang-pandanglah kami di Sembur ini,” jelasnya.

Untuk diketahui, tanah yang dihibahkan Ghazarman menjadi bagian dari pembangunan fasilitas PLTS berkapasitas 1 megawatt peak (MWp) yang dikembangkan Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE). Proyek di Pulau Sembur dibangun secara bertahap sejak Desember 2025 hingga Agustus 2026.

PLTS di Pulau Sembur merupakan bagian program pengembangan PLTS dengan total kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) yang diresmikan langsung Presiden Prabowo Subianto di Monumen Operasi Gilimanuk, Kabupaten Jembrana, Bali, Selasa (25/8/2026).

Bagi Ghazarman, kehadiran pembangkit tersebut menghadirkan perubahan yang lebih besar daripada sekadar tersedianya sumber listrik baru. Ia melihat langsung bagaimana anak-anak kini bisa mengerjakan pekerjaan rumah pada malam hari tanpa harus menunggu genset dinyalakan.

“Sekarang anak kami bisa mengerjakan PR malam. Dengan program ini cukup membantu masyarakat Sembur. Sekarang saya bahagia, mengalir air mata saya saat itu melihat anak-anak di pulau ini gembira,” ujarnya.

Perubahan serupa dirasakan Suharti (50), warga yang sehari-hari berjualan jajanan, minuman, dan mi rebus, yang harus menyesuaikan aktivitas dengan keterbatasan listrik yang tersedia beberapa jam pada malam hari.

“Sekarang sudah bisa menikmati listrik dari pagi, siang, dan malam,” jelasnya

Suharti menerangkan, warga mendapat informasi bahwa listrik pada tahap awal program ini diberikan secara gratis sebelum sistem pembayaran menggunakan token diberlakukan.

Meski demikian, kepastian biaya listrik setelah masa awal tersebut tetap menjadi perhatian warga. Perkiraan biaya sekitar Rp150 ribu per bulan untuk penggunaan listrik rumah tangga menjadi salah satu hal yang perlu diperhitungkan ke depan.

* Perawatan PLTS Pulau Sembur Memanfaatkan Masyarakat Asli

Berbicara mengenai program energi terbarukan, seperti program PLTS yang digagas Pertamina NRE di Pulau Sembur, Galang, Batam, Kepulauan Riau. Maka perawatan dan pengecekan berkala merupakan bagian penting yang wajib dilakukan.

Manager Corporate Communication & Stakeholders Management Pertamina New & Renewable Energy, Susanto August Satria menjelaskan terkait perawatan berkala bagi solar panel yang telah terpasang pihaknya menggandengan masyarakat asli dari Pulau Sembur.

Saat ini, sebanyak 6 orang warga telah dilatih secara khusus untuk diberdayakan sebagai operator di lokasi solar panel PLTS Pulau Sembur.

“Kami mengandeng 6 warga asli dari Pulau Sembur untuk menjadi operator. Mereka telah dilatih secara khusus bahkan sejak tahun lalu,” jelas Agus saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Jumat (9/10/2026) siang.

Keenam warga yang telah ditunjuk sebagai operator, merupakan pekerja yang akan dibawahi oleh Koperasi Merah Putih Kecamatan Galang.

Tidak hanya itu, nantinya Koperasi Merah Putih juga akan menjadi penanggung jawab operasional PLTS, hingga penentuan biaya iuran per rumah yang diperuntukkan untuk biaya operasional.

“Sampai hari ini untuk iuran atau biaya listrik ke rumah warga masih gratis. Kemungkinan sampai awal tahun, nanti Koperasi Merah Putih yang akan menentukan biaya nya,” jelasnya.

* PLTS untuk 200 Kepala Keluarga

Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Haris mengatakan PLTS Pulau Sembur dirancang untuk memenuhi kebutuhan listrik sekitar 200 kepala keluarga, termasuk 158 rumah.

Selain untuk rumah warga, listrik juga akan digunakan untuk fasilitas umum serta mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.

“Dengan kapasitas satu MW tadi dengan baterai satu MW itu sudah sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan 24 jam per hari masyarakat Sembur,” jelas Haris.

Menurut nya, kapasitas listrik yang tersedia masih berpotensi menghasilkan kelebihan energi yang dapat dimanfaatkan untuk kegiatan produktif. Salah satunya melalui fasilitas rantai dingin berupa cold storage dan ice maker yang telah disiapkan di Pulau Sembur.

Proyek tersebut dilengkapi ice maker berkapasitas 4 ton per hari serta cold storage berkapasitas 5 ton. Fasilitas itu diharapkan membantu nelayan menjaga kualitas hasil tangkapan agar tidak cepat rusak dan dapat dijual dengan nilai lebih tinggi.

“Infrastruktur energi tersebut juga dirancang untuk mendukung aktivitas ekonomi masyarakat, terutama nelayan,” lanjutnya.

Haris mengatakan keberadaan cold storage menjadi salah satu bentuk pemanfaatan energi untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Ia berharap fasilitas tersebut ke depan dapat digunakan untuk menyimpan komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi, seperti ikan kerapu dan rajungan.

Selain itu, kelebihan listrik yang tersedia juga berpotensi dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pulau-pulau di sekitar Pulau Sembur.

“Harapannya tidak hanya fasilitas ini menyediakan khusus untuk di Pulau Sembur. Karena listriknya berlebih, mungkin juga nanti di pulau-pulau sekitar,” jelasnya.

Beralih dari genset berbahan bakar minyak ke energi surya juga berdampak pada penghematan penggunaan BBM. PLTS Pulau Sembur diproyeksikan menghemat sekitar 877 liter BBM per hari atau sekitar 320.000 liter per tahun.

Penghematan tersebut berpotensi mengurangi biaya pembelian BBM sekitar Rp 3,5 miliar hingga Rp 5 miliar per tahun.

Dari sisi masyarakat, biaya untuk memenuhi kebutuhan listrik rumah tangga juga diperkirakan menurun. Haris menyebut, sebelumnya warga dapat mengeluarkan sekitar Rp500 ribu per bulan untuk membeli bahan bakar dan mengoperasikan genset.

Dengan adanya PLTS, pengeluaran tersebut diperkirakan turun menjadi sekitar Rp 200.000 per bulan, bergantung pada pemakaian.

“Kalau kita lihat dari sisi affordability, warga masyarakat di sini biasanya spending sekitar Rp500 ribu rupiah per bulan untuk genset. Sekarang dengan adanya energi yang melimpah, spending nya lebih murah, hanya sekitar Rp200 ribu per bulan,” ujarnya. (Nando)