TIDAK semua orang mampu mendapat gelar pendidikan sarjana ditengah serba keterbatasan. Hanya orang-orang yang memiliki niat semangat belajar yang mampu meraihnya.
Sosok Musrin contohnya, meski Ia memiliki keterbatasan finansial (Ekonomi) namun Ia mampu menepis anggapan yang menyebutkan, bahwa hanya orang-orang yang berkehidupan lebih yang mampu menempuh pendidikan yang lebih tinggi lagi. Yakni menjadi seorang bergelar sarjana.
Malam itu, tepatnya disebuah warung kecil di dekat kediamannya di Rusun Mukakuning. Tim AlurNews.com berkesempatan bertemu dengan sosok Musrin yang penuh dengan pengalaman hidup yang dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang.
Secangkir kopi, ditambah tiupan angin malam. Perbincangan kian menarik bersamanya. Dimana ketika itu, Musrin menceritakan alur kisah hidupnya semasa kecil hingga saat ini.
Dimasa kecilnya, Musrin memiliki berbagai cerita hidup yang cukup menyayat hati. Ia terlahir dari keluarga yang serba kekurangan. Ayahnya hanya seorang petani sedangkan ibunya hanyalah seorang ibu rumah tangga.
Musrin lahir di Kuta (Kota) Cane, 07 September 1977. Anak satu-satunya laki-laki, anak ke dua dari 5 bersaudara.
Ayahnya bernama Abdul Muis sedangkan ibunya bernama Safinah (Almarhumah).
Terlahir dari keluarga kurang mampu, Musrin tumpuh menjadi seorang anak laki-laki yang penuh dengan kemandirian dan dari kecil ia telah belajar hidup sederhana.
Sejak kecil, dikala hari libur sekolah, Musrin telah membantu orang tuanya ke sawah untuk menanam padi. Hidup Musrin memang tidak seberuntung teman-teman sebayanya. Namun ia tak pernah merasa minder.
Sama halnya ketika Musrin hendak berangkat menuju Sekolah. Musrin harus berjalan kaki berkilo-kilo dari rumah menuju sekolah. Tak hanya itu saja, Musrin harus menyebrangi sungai yang cukup besar jika ingin sampai ke Sekolah.
“Kalau ke Sekolah itu, kita jalan kaki berkilo-kilo meter. Terus ada sungai besar yang harus kita sebrangi. Jadi kalau kita mau nyebrang ya berenang. Kita buka tuh seragam Sekolah. Baru kita naikkan keatas Kepala, biar gak basah. Tiap sekolah. Itulah tantangannya. Tapi karena kita memang niat untuk sekolah. Jalan kaki dan nyebrang itu seperti lagi main aja bawaannya,” ceritanya.
Lagi asiknya menikmati dunia sekolah. Cobaan pun menghampirinya. Dikala itu, Musrin masih menginjak bangku sekolah kelas tiga SD, Ibunda tercinta meninggal dunia.

















