
AlurNews.com – Pemerintah Indonesia terus membidik posisi sebagai pusat layanan Maintenance, Repair and Overhaul (MRO) di kawasan Asia, hal ini diperlukan sebagai strategi meningkatkan daya saing sektor penerbangan nasional.
Untuk merealisasikan hal ini, Pemerintah kini menunjuk Kota Batam, Kepulauan Riau sebagai salah satu motor pengembangan industri tersebut. Batam dinilai memiliki posisi strategis, karena berada di jalur perdagangan internasional.
Sekretaris Deputi Koordinasi Konektivitas Kementerian Koordinator Infrastruktur Republik Indonesia, Rustam Efendi mengatakan pengembangan sektor penerbangan tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan bandara atau penambahan armada pesawat.
Menurut dia, keberadaan industri MRO menjadi faktor penting yang menentukan efisiensi dan keberlanjutan bisnis penerbangan nasional.
“Kalau ingin sektor penerbangan kita kompetitif, tidak cukup hanya bicara avtur atau kapasitas bandara. MRO menjadi salah satu komponen penting yang menentukan efisiensi dan keberlanjutan industri penerbangan,” jelasnya dalam kegiatan Indonesia MRO Summit (IMROS) 2026 yang berlangsung di Batam, Selasa (9/6/2026) siang.
Pemerintah saat ini mulai mengubah paradigma pembangunan infrastruktur, dari sekadar membangun fasilitas fisik menjadi membangun konektivitas yang terintegrasi antara bandara, pelabuhan, kawasan industri, dan pusat logistik.
Selain Batam, pemerintah kini juga memprioritaskan sejumlah daerah sebagai simpul konektivitas nasional, di antaranya Jakarta, Surabaya, dan Makassar.
“Jadi yang dibangun bukan hanya bandara, tetapi juga sistem pendukung yang terintegrasi dengan kawasan industri dan logistik,” ujarnya.
Melalui penguatan konektivitas ini, pemerintah ingin mempercepat distribusi suku cadang dan komponen pesawat, memangkas waktu tunggu logistik, serta meningkatkan efisiensi operasional industri MRO dalam negeri.
Selain pembangunan infrastruktur, pemerintah juga menilai peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi faktor penting dalam mendukung pertumbuhan industri penerbangan nasional.
“Indonesia masih membutuhkan lebih banyak teknisi dan insinyur penerbangan untuk mengimbangi pertumbuhan armada dan kebutuhan layanan perawatan pesawat yang terus meningkat,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) Andi Fahrurrozi menilai Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemain utama industri MRO di kawasan Asia, meski masih menghadapi sejumlah tantangan.
Menurut dia, industri MRO nasional saat ini sudah menguasai sekitar 90 persen pekerjaan perawatan struktur pesawat (airframe). Namun, tantangan terbesar masih berada pada sektor perawatan komponen dan mesin pesawat yang membutuhkan investasi sangat besar.
“Kendala kita ada di komponen dan engine. Untuk engine, sekitar 70 persen masih dikerjakan di luar negeri,” ujarnya.
Akibat keterbatasan kapasitas tersebut, hampir setengah pasar perawatan pesawat Indonesia masih dinikmati perusahaan luar negeri. IAMSA mencatat sekitar 46 persen pasar MRO nasional masih mengalir ke luar negeri, terutama untuk pekerjaan perawatan mesin dan komponen pesawat.
Karena itu, industri berharap pemerintah segera menyelesaikan sejumlah kebijakan strategis yang dapat meningkatkan daya saing sektor MRO nasional, termasuk penyederhanaan regulasi impor suku cadang pesawat.
Andi mengungkapkan pembahasan mengenai fasilitas dan penyederhanaan aturan impor komponen penerbangan telah berlangsung dalam dua tahun terakhir dan saat ini menunggu penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK).
“Keberhasilan bergantung pada kekuatan ekosistem. Diperlukan kolaborasi antara pemerintah, regulator, maskapai, penyedia MRO, OEM, pemasok, institusi pendidikan, dan investor,” jelasnya. (Nando)

















