
AlurNews.com – Kebakaran lahan seluas 30 hektare di Desa Kudung, Kecamatan Lingga Timur, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), masih berstatus proses pemadaman walau sudah masuk hari ke-14 pada, Jumat (4/9/2026).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lingga Oktanius Wirsal menjelaskan saat ini, tim gabungan masih berjibaku memadamkan titik-titik api sekaligus mencegah kobaran meluas ke area perkebunan milik warga.
Adapun salah satu upaya yang dilakukan saat ini adalah memutus jalur api agar kobaran tidak menjalar ke wilayah lain.
“Saat ini kami mencoba memadamkan dengan cara memotong jalur api,” ujar Oktanius saat dikonfirmasi dan membalas melalui rekaman suara WhatsApp yang diterima, Jumat (4/9/2026) sore.
Oktanius yang saat ini bergabung dengan tim pemadam menjelaskan bahwa kondisi medan yang sulit membuat petugas harus menempuh jarak sekitar dua kilometer untuk mencapai titik yang akan diputus.
Bahkan, petugas harus membuka akses dengan memotong jalur melalui sungai sepanjang sekitar 800 meter.
“Untuk memutus api, kami harus menempuh jarak sejauh dua kilometer dan memotong jalan melalui sungai sepanjang 800 meter,” jelasnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena lokasi kebakaran berada tidak jauh dari kebun sagu milik warga. Oktanius mengatakan, tim pemadam kini berupaya mencegah api mendekati area perkebunan sagu yang luasnya hampir 800 hektare.
“Kami mendekati lokasi kebun sagu milik warga yang luasnya hampir 800 hektare. Kalau itu terkena api, kerugian bisa signifikan,” ujarnya.
Menurut dia, kebun tersebut menjadi salah satu area yang harus dilindungi agar kebakaran tidak menimbulkan dampak lebih besar.
Hingga saat ini, dari total sekitar 30 hektare lahan yang terbakar, tim gabungan baru berhasil memadamkan api di area sekitar 10 hektare.
Selain melakukan pemadaman, petugas terus memantau titik-titik api dan lahan yang sebelumnya terbakar untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran.
Oktanius menjelaskan, kebakaran diduga bermula ketika seorang warga membuka lahan dengan cara membakar sisa tebangan.
Saat itu, warga tengah melakukan kegiatan “manduk”, yakni mengumpulkan sisa hasil tebasan. Setelah satu tumpukan selesai dikumpulkan, sisa tebangan kemudian dibakar.
“Namun, api dengan cepat merambat ke bagian lahan lainnya. Cuaca panas dan angin kencang membuat api sulit dikendalikan,” ujarnya.
Warga sempat berusaha memadamkan api menggunakan peralatan seadanya dengan mengambil air dari parit di sekitar lokasi. Namun, upaya tersebut tidak berhasil menghentikan penyebaran api.
Kebakaran kemudian ditangani secara bersama-sama oleh personel Polsek Daik Lingga, Yonif TP 849/Beladau Sakti, BPBD, Koramil, Pos AL, warga Desa Kudung, serta pekerja PT CSA.
Untuk pemadaman, tim menggunakan mesin Robin milik PT CSA untuk menyemprotkan air yang diambil dari parit di sekitar lokasi.
Lokasi kebakaran berjarak sekitar satu kilometer dari permukiman warga. Sementara itu, jarak dari jalan utama menuju lokasi diperkirakan mencapai 1,5 kilometer.
Akses menuju titik penampungan air hingga lokasi kebakaran juga cukup sulit karena hanya dapat dilalui melalui jalan setapak.
Kondisi medan tersebut menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman, terutama ketika petugas harus membuka jalur untuk memutus pergerakan api.
Lahan yang terbakar merupakan area pembukaan lahan yang direncanakan untuk dijadikan perkebunan kelapa hibrida. Lahan tersebut disebut menjadi bagian dari program Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau.
BPBD menduga kebakaran terjadi akibat kelalaian dalam pembukaan lahan dengan metode pembakaran. Angin kencang kemudian membuat api cepat menjalar ke area lainnya.
“Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Sementara itu, kerugian materiil masih dalam proses pendataan,” jelasnya. (Nando)

















