26 Tahun Berkarier, Efek Rumah Kaca Akhirnya Tampil Perdana di Batam dalam Fesmed Selat Malaka AJI

Efek Rumah Kaca tampil Perdana di Batam Fesmed Selat Malaka AJI. (Foto: AlurNews)

26 Tahun Berkarier, Efek Rumah Kaca Akhirnya Tampil Perdana di Batam dalam Fesmed Selat Malaka AJI

AlurNews.com – Grup musik Efek Rumah Kaca (ERK) akhirnya tampil di Kota Batam, Kepulauan Riau, setelah 26 tahun berkiprah di industri musik Indonesia.

Penampilan perdana ERK di Batam itu menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian dalam Festival Media Selat Malaka Aliansi Jurnalis Independen (Fesmed AJI) 2026 yang digelar di Batam dan Tanjungpinang, 19-21 September 2026.

Konser ERK digelar pada malam kedua rangkaian festival. Penampilan grup yang digawangi Cholil Mahmud, Adrian Yunan Faisal, dan Akbar Bagus Sudibyo itu berlangsung dalam format yang intim dan diperuntukkan bagi peserta yang sebelumnya mengikuti lokakarya atau seminar Fesmed.

Suasana konser semakin hangat ketika para peserta yang sejak pagi mengikuti berbagai diskusi dan lokakarya berkumpul menikmati pertunjukan musik.

Penampilan ERK mendapat sambutan antusias hingga penghujung acara. Konser tersebut menjadi salah satu momen yang membekas bagi peserta Fesmed Selat Malaka 2026.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Aliansi Jurnalis Independen,” kata Bagus, salah seorang pengunjung konser.

Kehadiran ERK menjadi bagian dari konsep Fesmed Selat Malaka 2026 yang tidak hanya menghadirkan forum diskusi mengenai pers dan jurnalistik, tetapi juga menggabungkan seni dan budaya sebagai ruang perjumpaan.

Fesmed Selat Malaka 2026 menjadi penyelenggaraan pertama yang digelar di dua kota sekaligus, yakni Batam dan Tanjungpinang. Festival yang berlangsung selama tiga hari itu mengusung tema “Kemerdekaan Pers dan Keadilan HAM di Asia Tenggara”.

Sejak pembukaan di Politeknik Negeri Batam, Sabtu (19/9/2026), hampir 500 peserta mengikuti seminar internasional yang membahas kondisi kebebasan pers dan jurnalisme di Asia Tenggara.

Lebih dari 20 lokakarya, seminar, diskusi publik, dan gelar wicara kemudian digelar dengan membahas beragam isu, mulai dari pembangunan data center dan kebutuhan energi serta air, isu kelautan dan pulau-pulau kecil, tindak pidana perdagangan orang, peningkatan kapasitas jurnalistik, jurnalisme warga, hingga penulisan ilmiah populer.

Ketua AJI Batam Yogi Eka Sahputra mengatakan kolaborasi menjadi salah satu kunci pelaksanaan Fesmed Selat Malaka 2026.

Selain ERK, rangkaian pentas seni juga menampilkan Kumpulan Anak Seni (KUAS) Politeknik Negeri Batam, Malaykustik, serta pertunjukan joget lambak. Menurutnya, pelaksanaan festival melibatkan berbagai pihak, termasuk hampir 100 mahasiswa dari Politeknik Negeri Batam yang tergabung dalam sejumlah komunitas dan lembaga kemahasiswaan.

“Terima kasih untuk semua pihak yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu dalam kolaborasi ini,” kata Yogi.

Ia mengatakan persiapan Fesmed telah dilakukan hampir satu tahun hingga akhirnya seluruh rangkaian kegiatan dapat terlaksana.

“Banyak apresiasi untuk panitia dari tamu undangan kita, semoga ini menjadi kenangan terindah untuk kita semua,” ujarnya.

Di balik kemeriahan panggung musik, Fesmed Selat Malaka 2026 membawa agenda utama mengenai kebebasan pers dan persoalan publik di kawasan Asia Tenggara.

Seminar internasional menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida, Regional Director Asia Centre James Gomez, Pongpan Chunjai dari Prachatai Thailand, Koordinator Gerakan Media Merdeka (Geramm) Alyaa Alhadjri, serta Editor-in-Chief Japan Fact-check Center Daisuke Furuta.

Diskusi menyoroti tantangan yang dihadapi media dan jurnalis di kawasan Asia Tenggara serta pentingnya membangun jaringan lintas negara.

Daisuke mengatakan jejaring internasional dapat membantu memperluas perhatian terhadap kasus-kasus yang dialami jurnalis di kawasan.

“Dan harapannya ada aksi nyata yang mengikutinya,” kata Daisuke.

Ketua Panitia Fesmed Selat Malaka 2026 Adam Zulfikar mengatakan festival tersebut dirancang bukan sekadar sebagai ajang pertemuan jurnalis.

Menurut dia, Fesmed menjadi ruang untuk memperluas diskusi mengenai media, jurnalisme, lingkungan, demokrasi, dan masyarakat sipil.

“Di tengah situasi seperti sekarang, ruang untuk berdiskusi, bertukar perspektif, dan membicarakan berbagai persoalan mesti terus diperbanyak,” kata Adam.

Rangkaian festival kemudian berlanjut ke Tanjungpinang dan Pulau Penyengat pada hari ketiga, Senin (21/9/2026).

Para delegasi berangkat dari Batam menuju Tanjungpinang sebelum mengikuti napak tilas di Pulau Penyengat sekaligus membuat catatan perjalanan.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan sarasehan di Aula Kantor Lembaga Adat Melayu (LAM) Tanjungpinang, yang diawali dengan makan berhidang khas Melayu.

Selain itu, para delegasi AJI mengikuti konsolidasi internal yang dipimpin Sekretaris Jenderal AJI Indonesia Bayu Wardhana.

Ketua Umum AJI Indonesia Nany Afrida mengatakan Fesmed menjadi ruang bagi pengurus AJI dari berbagai daerah untuk bertemu, bertukar informasi, sekaligus membahas rencana dan program organisasi.

“Senang sekali bisa bertemu dengan teman-teman untuk menyampaikan semua rencana-rencana. Kita berharap ke depannya AJI semakin kuat,” ujar Nany. (Nando)