
Di Desa Panggak Laut, Kabupaten Lingga, suara mesin kilang sagu masih menjadi bagian dari keseharian warga. Puluhan kilang tetap mengolah batang sagu secara tradisional, menjaga warisan ekonomi Melayu sekaligus menghadapi tantangan untuk mengubahnya menjadi produk bernilai tambah bagi masyarakat setempat.
Partahi Fernando Sirait
Batam
AlurNews.com – Kabupaten Daik, Provinsi Kepulauan Riau yang dahulu merupakan bagian dari Kesultanan Riau Lingga, pada abad ke-19 menjadi salah satu daerah penghasil sagu yang cukup dikenal.
Berkat sagu, Kesultanan Riau Lingga menjadi cukup dikenal dengan kemandirian pangan dan ekonomi dengan berbagai kapal niaga yang menembus pasar Tumasik Singapura, serta Pahang Malaysia kala itu.
Kini walau tidak seterkenal di era Kesultanan, namun sagu masih menjadi mata pencaharian utama warga di beberapa desa di Kelurahan Daik, Kecamatan Lingga, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau.
Baca Juga: Hasil Karya Dari Eceng Gondok Batam Tembus Pasar Turki
Salah satunya Desa Panggak Laut, salah satu desa yang memiliki 20 kilang sagu tradisonal yang masih dioperasikan secara turun temurun. Salah satu pemilik kilang, Sofyan juga meneruskan usaha yang sebelumnya dijalankan orang tuanya.
“Saya cuma meneruskan apa yang dahulu juga dilakukan almarhum orang tua,” jelas Sofyan yang ditemui di kilang warisan orangtuanya, Minggu (4/10/2026).
Puluhan tahun berjalan, Sofyan menyebut aktivitas tersebut tetap bertahan. Dimulai dari batang sagu dari hutan yang ditebang untuk diproduksi, dipotong, dikupas, dibelah dan diparut sebelum masuk ke proses pemisahan pati.
Daei proses pemisahan pati ini, biasanya akan menghasilkan serat hasil parutan yang oleh masyarakat setempat disebut serampit dan kemudian diproses menggunakan air selama berjam-jam. Pati sagu akan mengendap, sementara air secara perlahan menjadi lebih jernih.
“Serampit namanya itu. Jadi serampit itu dikebul, sampai dari awal sekitar tujuh jam atau delapan jam,” jelasnya.
Dalam proses produksi ini, secara turun temurun keluarga Sofyan turut bergantung pada air sungai yang berada di sekitar kilang. Ketika air yang keluar dari proses pengolahan sudah hampir sama jernihnya dengan air sungai, menjadi tanda bahwa pati sagu yang terkandung di dalam serat telah banyak terambil.
Bagi Sofyan, saat ini persoalan fasilitas juga menjadi bagian penting dalam meningkatkan produksi. Sebagai salah satu penjaga warisan budaya ekonomi Daik, Sofyan menyebut mendapat dukungan Bank Indonesia melalui pemerintah desa dalam penyediaan fasilitas pengeringan sagu.
Menurut dia, fasilitas tersebut cukup membantu walau kapasitas pengeringan masih perlu diperbesar agar mampu menampung produksi dalam jumlah lebih banyak.
“Kalau yang ada ini sudah cukup, cuma kita ini yang kurangnya itu tempat pengeringan yang betul-betul bisa produksi banyak,” katanya.
Sebagai generasi yang meneruskan dan menjaga ekonomi pendahulunya, Sofyan menyebut pengetahuan mengolah sagu yang merupakan keterampilan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun di generasinya saat ini, persoalan muncul setelah pati sagu berhasil diproduksi.
Kepala Desa Panggak Laut, Agung Yuda mengatakan saat ini masyarakat membutuhkan dukungan agar sagu yang selama ini menjadi sumber penghidupan dapat diolah lebih jauh menjadi produk bernilai tambah.
Harapan itu muncul karena sebagian besar hasil produksi kilang sagu Panggak Laut selama ini dikirim ke luar daerah, seperti Jambi, Batam dan Jawa. Di daerah tujuan itu, hasil sagu dari kilang di Desa tersebut kembali diolah menjadi berbagai produk pangan.
Dengan kondisi itu, nilai tambah terbesar justru berpotensi berada di luar daerah penghasil.
“Kami berharap kami menjual itu tidak lagi bahan mentah. Kami menjual tepung,” jelas Agung.
Agung mengatakan, saat ini hasil produksi kilang di Desa Panggak Laut dapat mencapai sekitar 12 hingga 18 ton per bulan, bergantung pada kapasitas dan kondisi produksi. Sagu bersih inilah yang kemudian dikirim ke sejumlah daerah untuk diolah menjadi berbagai kebutuhan pangan.
Tepung sagu dapat menjadi bahan dasar mi sagu, kue kering dan berbagai makanan lainnya. Sementara di Panggak Laut, pengembangan produk olahan masih menghadapi berbagai keterbatasan, salah satunya adalah pemasaran.
Agung mengatakan produk tepung sagu lokal harus berhadapan dengan produk bermerek yang telah memiliki jaringan distribusi lebih luas. Jarak Lingga dengan pusat ekonomi Kepri seperti Batam juga membuat ongkos distribusi menjadi lebih tinggi.
“Kami sangat berharap bantuannya itu pasarannya diarahkan ke mana, kemudian alat transportasi yang kami gunakan seperti apa untuk mengantar produk ke minimarket,” jelasnya.
Agung mengingatkan bahwa bagi masyarakat Panggak Laut, sagu telah menjadi bagian dari kehidupan ekonomi dan pengetahuan yang diwariskan oleh orang tua kepada generasi berikutnya.
Salah satu bentuk saling menjaga terlihat dari ketersediaan bahan baku sagu, yang menurut Agung sejauh ini masih relatif aman. Karakter tanaman sagu yang dapat tumbuh kembali setelah ditebang membuat masyarakat masih dapat mengandalkannya sebagai sumber bahan baku.
“Tipikal pohon sagu ini seperti pohon pisang. Satu ditebang, tumbuh lagi,” katanya.
Agung sendiri berharap agar warisan daei Desa kelahirannya ini memiliki peluang untuk berkembang lebih jauh. Bukan sekadar menjual apa yang tumbuh di tanah sendiri, tetapi mengolahnya menjadi produk dengan cerita, identitas dan nilai ekonomi yang melekat pada daerah asalnya.
“Mereka membutuhkan teknologi pengolahan, fasilitas pengeringan, kemasan, merek, akses pemasaran hingga dukungan distribusi,” ujarnya.

















