
AlurNews.com – Warga Kavling Nongsa, Kampung Teluk Mata Ikan dan sekitarnya kembali mendatangi Nongsa Digital Park (NDP), yang merupakan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Data Center, Rabu (14/10/2026).
Warga kembali melakukan aksi unjuk rasa, akibat permasalahan aliran air bersih ke pemukiman warga yang kembali tidak menyala selama tiga hari belakangan.
Warga mengaku kehabisan persediaan air dan kesulitan memenuhi kebutuhan dasar rumah tangga. Warga yang tinggal di kawasan pesisir ini, mengaku menggunakan air laut untuk memenuhi kebutuhan sanitasi sehari-hari.
Baca Juga: Usai Pemblokiran NDP, Camat Nongsa Pastikan Air Bersih Segera Mengalir
“Tuntutannya air, normalkan. Ini aja, jangan menyiksa warga,” kata Firman salah satu warga saat ditemui di lokasi.
Menurut Firman, kondisi kekurangan air sudah sangat memprihatinkan. Warga bahkan terpaksa memanfaatkan air laut untuk membersihkan diri karena tidak memiliki persediaan air bersih.
“Kering semua. Sampai orang Teluk Mata Ikan itu, terpaksa pakai air laut buat cebok (membersihkan diri),” ujarnya.
Warga juga mengeluhkan belum masuknya bantuan air tangki dari Air Batam Hilir (ABH). Kondisi itu membuat mereka harus bertahan dengan persediaan yang terbatas, sementara kebutuhan untuk mandi, membersihkan rumah, dan keperluan sanitasi lainnya tetap berlangsung setiap hari.
Lisa, salah seorang warga meminta pihak terkait tidak sekadar menyampaikan janji tanpa kepastian penyelesaian.
“Jangan hanya janji, kami mau kepastian. Kami udah capek, Pak, berdiri di sini,” jelasnya.
Humas PT Air Batam Hilir (ABH), Ginda Alamsyah, mengakui warga Teluk Mata Ikan terdampak gangguan pasokan air dan sangat membutuhkan air bersih. Ia mengatakan, pihaknya mengupayakan agar distribusi air ke kawasan tersebut kembali mengalir pada Rabu sore.
“Kita usahakan petang ini bisa teraliri,” ujar Ginda dihubungi melalui sambungan telepon.
Di tengah keluhan warga, ABH juga menyoroti kondisi daerah tangkapan air di kawasan Nongsa yang dinilai turut memengaruhi ketersediaan air baku. Ginda mengakui kegiatan pematangan lahan atau cut and fill di sekitar Nongsa mengganggu daerah tangkapan air Waduk Nongsa.
“Adanya cut and fill itu pasti mengganggu daerah tangkapan air tadi, sehingga tangkapan airnya berkurang,” ujarnya.
Menurut dia, selain curah hujan yang minim di Nongsa kondisi daerah tangkapan air menjadi salah satu perhatian ABH dalam menjaga ketersediaan air baku.
Ia menjelaskan, daerah tangkapan air memiliki peran penting dalam memasok air ke waduk. Karena itu, upaya menjaga kawasan tersebut perlu melibatkan berbagai pihak.
Ginda menegaskan, konservasi alam bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan bersama.
“Selain curah hujan yang kurang di Nongsa, daerah tangkapan airnya juga menjadi perhatian kita untuk dijaga,” ujarnya. (Nando)

















