Sulit Bawa Pulang Ikan, Wisata Mancing Tanjungpinang Terdampak

wisata mancing tanjungpinang
Ilustrasi. Memancing. Foto: Pixabay

AlurNews.com – Wisata mancing di Tanjungpinang mulai terdampak akibat wisatawan mancanegara kesulitan membawa pulang hasil tangkapan ikan.

Kondisi tersebut disebut memicu penurunan kunjungan wisatawan, khususnya pemancing asal Malaysia, yang selama ini masuk melalui Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura.

Wali Kota Tanjungpinang, Lis Darmansyah, mengatakan persoalan itu diketahui setelah menerima laporan dari pelaku usaha perjalanan wisata yang melayani wisatawan mancanegara. Menurutnya, sejumlah wisatawan mengeluhkan hasil tangkapan mereka kerap tertahan saat hendak dibawa pulang.

Baca Juga: Tak Ingin Wisman Hanya Transit, Tanjungpinang Siapkan Strategi Wisata

“Setelah kami cek, persoalannya sederhana, yaitu ketika mereka membawa box hasil pancingan untuk pulang, selalu ditahan,” kata Lis, Jumat (10/7/2026), dikutip dari laman resmi Pemko Tanjungpinang.

Dampak persoalan tersebut mulai dirasakan pelaku usaha wisata. Sebagian wisatawan memilih meninggalkan hasil tangkapannya, sementara sebagian lainnya beralih masuk melalui daerah lain yang dinilai lebih memudahkan.

Padahal, kunjungan wisatawan mancanegara ke Kepulauan Riau tengah meningkat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepulauan Riau, selama Januari-Mei 2026 tercatat 837.015 kunjungan wisatawan asing atau naik 17,61 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Dari jumlah itu, sebanyak 26.605 wisatawan masuk melalui Pelabuhan Internasional Sri Bintan Pura.

Lis mengatakan keluhan tersebut telah beberapa kali disampaikan agen perjalanan dari Malaysia kepada pelaku wisata di Tanjungpinang. Karena itu, pemerintah daerah berupaya mencari solusi agar kendala tersebut tidak terus memengaruhi minat wisatawan datang ke Tanjungpinang.

“Saya sudah menghubungi Kepala Bea Cukai dan juga berkomunikasi dengan Kepala Imigrasi. Kami berharap bisa duduk bersama mencari solusi,” ujarnya.

Lis berharap seluruh pemangku kepentingan memiliki komitmen yang sama dalam mendukung pengembangan sektor pariwisata tanpa mengabaikan aturan yang berlaku.

“Kita harus punya komitmen bersama agar pengembangan Tanjungpinang menjadi kota wisata tidak sia-sia,” kata Lis. (red)