Hadapi Gempuran Hoaks dan AI, PFI Tekankan Etika Foto Jurnalistik

Etika Foto Jurnalistik
Korwil Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bagian Sumatera Hendra Syamhari membahas tantangan teknologi digital dan AI dalam Fesmed Selat Malaka di Batam, Minggu (20/9/2026). Foto: Dok. AJI Batam.

Alurnews.com — Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) menjadi salah satu tantangan bagi pewarta foto saat ini. Isu ini dibahas dalam Festival Media (Fesmed) Selat Malaka 2026 yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) berkolaborasi dengan PFI di Batam.

Koordinator Wilayah (Korwil) Pewarta Foto Indonesia (PFI) Bagian Sumatera Hendra Syamhari menegaskan bahwa kejujuran visual di era serba digital menjadi tantangan foto jurnalistik sebagai literasi publik.

Hendra menyebutkan bahwa fotografer jurnalistik memegang teguh etika dalam menjalankan tugasnya. Etika tersebut berfungsi sebagai benteng pertahanan dari hoaks visual.

Baca Juga: Festival Media 2026 Buka Pendaftaran, Masyarakat Dapat Ikuti Seminar Hingga Lokakarya

“Sebuah foto disajikan secara jujur dan transparan sehingga publik dapat memahami suatu peristiwa secara utuh tanpa dimanipulasi,” kata Hendra.

Ia melanjutkan, dalam etika jurnalistik, karya visual harus mencerminkan kondisi sebenarnya saat peristiwa terjadi.

“Foto jurnalistik itu juga ada takarir (caption). Keterangan foto ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari produk jurnalistik,” tuturnya.

Di tengah krisis kejujuran visual saat ini, dengan dominasi teknologi AI dan manipulasi instan, foto jurnalistik memiliki peran penting untuk merekam fakta.

“Foto itu akan menjadi saksi dan perekaman sejarah. Peristiwa yang terjadi direkam melalui bidikan lensa, kemudian menghasilkan foto yang kita bagikan untuk menjadi informasi publik,” ujarnya.

Ia tidak memungkiri bahwa sebuah foto dapat mengundang kepanikan di era digital saat ini, terutama ketika banyak orang mempercayai keaslian sebuah foto hanya berdasarkan jumlah like terbanyak di media sosial, padahal kebenarannya belum dapat dipastikan.

“Tipsnya, jika melihat sesuatu yang meragukan baik berita maupun foto kita harus mencari tahu kebenarannya. Kalau tidak ada media yang memberitakan, skip,” tutur Hendra.

Dalam lokakarya itu, Hendra juga menampilkan beberapa foto dan meminta peserta untuk membedakan antara foto hasil AI dan foto asli. Dari sesi tersebut, terlihat bahwa tidak sedikit peserta yang terkecoh dan menganggap foto AI sebagai foto asli.

Ia melanjutkan, dalam menjalankan tugasnya, hal utama yang dikejar oleh seorang pewarta foto adalah momen. Kemampuan fotografer dalam menangkap momen inilah yang menjadi pembeda.

“Momen adalah peristiwa atau kejadian yang ditangkap oleh kamera dan tidak dapat diulang untuk kedua kalinya,” katanya.

Dalam pembahasannya, ia juga menegaskan bahwa perkembangan dunia fotografi tidak lepas dari penggunaan AI di era digital seperti saat ini. Kehadiran AI ikut mengubah total cara produksi foto jurnalistik.

“AI ini adalah alat bantu, bukan pengganti nurani jurnalis. Ada yang bilang ‘biarkan foto berbicara’. Apakah AI bisa seperti itu?” ujarnya.

Ia juga menyinggung sejauh mana sentuhan digital AI diperbolehkan dalam jurnalistik foto.

“AI digunakan untuk mengimbangi keterbatasan teknis yang ada dalam proses fotografi digital agar hasilnya lebih akurat, tanpa mengubah makna dan arti foto tersebut,” katanya.

“AI ini berfungsi sebagai alat penyuntingan teknis untuk koreksi warna, tetapi tidak untuk mengubah warna esensial, seperti mengubah warna rambut untuk keperluan manipulasi usia dan sebagainya,” sambungnya. (Nando)