
AlurNews.com – Ratusan warga Rempang dengan busana khas Melayu memadati lapangan sepak bola Muhammad Musa, Kamis (9/11/2023) lalu.
Mereka berduyun-duyun hadir untuk mengadakan acara pentas seni budaya dari 16 kampung adat yang terancam relokasi akibat PSN Rempang Eco-City.
Acara pentas seni berjalan dengan lancar. Berbagai seni khas Melayu, seperti silat, gurindam dan tarian ditampilkan dalam acara itu. Masyarakat yang hadir merasa sangat terhibur.
Baca Juga: Progres Relokasi Pelajar di Rempang: Baru 59 Siswa Pindah Sekolah

Di akhir acara, warga berdiri, serempak berteriak menolak relokasi sembari membentang spanduk-spanduk penolakan relokasi yang mengancam tempat tinggal mereka.
“Kegiatan ini untuk menyatukan masyarakat Melayu 16 titik kampung tua. Kita ingin menunjukkan kepada dunia, masyarakat Melayu di Rempang ini tetap bertahan,” kata salah satu warga, Zubri.
Pentas seni ini juga selain sebagai hiburan juga pemberi semangat, sebab beberapa bulan terakhir mereka hidup dalam suasana penuh tekanan dan rasa takut. Menurut Zubri, Indonesia telah merdeka 78 tahun. Namun, ia bertanya-tanya kenapa rakyat masih tertekan oleh pemerintah?
Padahal pemerintah ada karena rakyat ada, harusnya pemerintah menyejahterakan rakyatnya. Apapun kata pemerintah, akhirnya harus menyejetahrekan rakyatnya.
“Semoga suasana cair, tidak merasa terbebani, tertekan. Kejadian tanggal 7 dan 11 September, itu akan kami kenang sebagai hari bersejarah bagi Melayu Rempang,” kata dia.
Bicara mengenai seni dan budaya, itu merupakan ciri khas bangsa Melayu. Dengan pegelaran ini, suasana kebersamaan menjadi lebih kuat dan dengan bersatu mereka akan terus pertahankan kampung mereka.
“Kami yakin dengan progres yang ada, orang yang sudah daftar, masih jauh dari harapan mereka. Kami yakin itu tidak akan bertambah lagi,” ujarnya.
Zubri juga menilai, orang yang bermarwah adalah orang yang mampu menjaga amanah warisan datok nenek moyang mereka.
“Kalau asli yang lahir di tanah Rempang ini mereka tidak mau teriming-imingkan dengan rumah dan tanah yang dijanjikan oleh BP Batam itu,” kata dia.
Menurut dia, hal ini membuktikan ketika BP Batam memindahkan mereka ke Batam, mereka tidak merasakan kesejahteraan. Artinya mereka yang sedari awal bekerja sebagai nelayan dan berkebun tidak bisa bisa pindah di ruko.
Ia menyakini, orang-orang Melayu yang dipindahkan ke Batam itu tak akan bertahan hingga tiga bulan, sebab sebulan saja sudah ada yang balik ke kampung.
“Mereka setiap hari ke laut, ke kebun, kalau di ruko di Batam itu, mau ngapain di sana, mancing tak bisa, berkebun tak bisa. Tak mungkin orang alam, bisa bertahan dengan duduk saja, sehari saja sudah bosan, apalagi berbulan-bulan,” katanya
Dia dan ribuan masyarakat Rempang akan terus berjuang menolak relokasi kampung-kampung tua di Rempang karena sebuah investasi.
“Selama perjuangan ini belum sampai garis finish, Rempang ini masih milik kami, dan kami akan terus berjuang. Ini adalah salah satu bentuk perjuangan dasar kami, selain menjalin komunikasi dengan pihak terkait,” kata dia.
Sementara warga Rempang lainnya, Rahimah mengatakan, dalam acara pentas seni dan budaya itu, tidak ada satu pun organisasi. Menurutnya, semua murni dari masyarakat untuk masyarakat dalam menampilkan acara seni.
Beberapa kesenian ditampilkan dalam acara ini, mulai dari silat khas Melayu saat perkawinan, tari persembahan makan sirih hingga gurindam, syair.
“Ini menunjukkan Melayu tegar dan berwibawa dalam menghadapi segala apa yang terjadi beberapa bulan belakangan ini,” ujarnya. (Arjuna)

















