AlurNews.com – Bentrok antara dua kelompok terjadi di kawasan Setokok, Kecamatan Bulang, Kota Batam, Kepulauan Riau, Senin (14/9/2026) sore. Peristiwa tersebut menyebabkan dua orang meninggal dunia dan tujuh lainnya mengalami luka-luka.
Berdasarkan data yang dihimpun, bentrokan terjadi sekitar pukul 16.30 WIB dan lokasi kejadian berada tidak jauh dari Mako Marinir di kawasan Jembatan 3 Barelang.
Saat dikonfirmasi Kapolresta Barelang, Kombes Pol Anggoro Wicaksono mengatakan bentrokan bermula ketika salah satu kelompok datang ke lokasi. Pihaknya menngatakan bentrok dipicu permasalahan lahan.
Baca Juga:Â Penyelundupan Lewat Perairan Setokok, Ratusan Batang Rokok Ilegal Disita
“Adanya kejadian menyangkut masalah yang mengakibatkan orang meninggal dunia, ini diawali adanya konflik masalah lahan,” jelas Anggoro ditemui di Polresta Barelang, Senin (14/9/2026) malam.
Setelah melihat adanya kelompok yang berusaha merusak lahan, kelompok lain yang diberi kuasa untuk mengelola lahan tersebut kemudian merasa terprovokasi hingga terjadi aksi penyerangan dan serangan balasan.
“Kejadiannya adalah aksi spontan. Ada satu kelompok datang, dan kelompok yang dikuasakan mengelola lahan tersebut merasa terprovokasi dan melakukan serangan balasan,” ujarnya.
Dari bentrokan tersebut, dua orang dilaporkan meninggal dunia, sementara tujuh orang lainnya mengalami luka-luka, dengan tiga di antaranya berasal dari kelompok lainnya.
Polisi masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab kematian para korban. Berdasarkan dugaan awal, senjata yang digunakan dalam bentrokan tersebut merupakan senapan angin, bukan senjata api.
“Itu dugaan awal, untuk proses visum dan otopsi masih berjalan. Nanti akan kami proses sesuai hukum yang berlaku,” jelasnya.
Pascabentrok, Kepolisian juga telah mengamankan enam orang dan pihak kepolisian masih mendalami keterlibatan masing-masing orang dalam peristiwa tersebut, termasuk mencari pihak yang diduga sebagai pelaku.
“Beberapa orang telah diamankan dan sudah ada terduga pelaku yang sedang proses diambil keterangan. Ini juga akan dikembangkan keseluruhan,” ujarnya.
Anggoro juga menjelaskan, persoalan lahan yang menjadi latar belakang bentrokan tersebut sebenarnya telah berlangsung cukup lama.
Menurutnya, terdapat salah satu pihak yang telah mendapatkan izin pengelolaan lahan dari BP Batam. Namun, di sisi lain terdapat kelompok yang mengklaim memiliki lahan tersebut. Pihaknya juga memastikan bahwa bentrok yang terjadi berbeda dengan polemik Rempang Eco City.
Anggoro juga memastikan bentrokan di Setokok tidak berkaitan dengan konflik agraria di Rempang dan tidak mengandung unsur SARA.
“Ada salah satu pihak yang sudah dapat PL dari BP Batam. Namun ada pihak lain yang mengklaim memiliki lahan tersebut. Masalah ini berjalan sudah cukup lama,” ujarnya.
Usai bentrokan, aparat gabungan masih melakukan pengamanan di sekitar lokasi untuk memastikan situasi tetap kondusif.
Anggoro juga mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum dipastikan kebenarannya, terutama terkait video maupun kabar yang beredar setelah kejadian.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terprovokasi, tidak mudah terhasut oleh berita-berita yang belum tentu kebenarannya,” ujarnya. (Nando)


















