AlurNews.com – Penurunan muka air Waduk Nongsa di Kota Batam, Kepulauan Riau, menjadi alarm bagi pemerintah daerah untuk mencari sumber air baku alternatif jangka panjang. Hal ini mengingat Kota Batam hanya mengandalkan air baku dari waduk yang berfungsi menampung air hujan.
Wali Kota Batam sekaligus Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam, Amsakar Achmad mengatakan saat ini kebutuhan air bersih Batam terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk, perumahan, ekonomi, dan investasi.
Dimana untuk kebutuhan air bersih, Batam hingga saat ini sangat bergantung pada 7 dari total 8 waduk yang masih beroperasi dan sangat bergantung pada curah hujan.
“Ketersediaan air baku kita memang meningkat karena pertumbuhan Batam, baik pertumbuhan perumahan, pertumbuhan penduduk maupun pertumbuhan ekonomi, investasi,” jelasnya sesaat setelah menghadiri rapat paripurna di DPRD Batam, Rabu (17/10/2026) siang.
Menurutnya dengan kondisi saat ini, BP Batam mulai kembali membahas sejumlah opsi untuk menjamin pasokan air baku dalam jangka panjang. Salah satu yang dinilai paling menjanjikan adalah mendatangkan air baku dari Kabupaten Lingga.
Amsakar mengatakan, sebelumnya telah dilakukan kajian mengenai potensi mengambil sumber air baku dari Lingga yang berjarak lima jam perjalanan laut dan Kabupaten Bintan yang berjarak 45 menit perjalanan laut.
“Opsi saat ini mencari sumber air baku alternatif dari Kabupaten Lingga dan Kabupaten Bintan. Pernah dilakukan studi oleh perusahaan pengelola air baku Batam yang sebelumnya,” jelasnya.
Amsakar menyebut, dalam hasil kajian yang dilakukan oleh perusahaan pengelola air sebelumnya, Kabupaten Lingga memiliki keunggulan dari sisi ketersediaan sumber air.
Debit air di wilayah itu relatif besar sehingga dinilai mampu menopang kebutuhan Batam dalam jangka panjang. Namun, rencana ini dibarengi dengan konsekuensi biaya investasi pemasangan pipa distribusi air yang lebih besar dibandingkan opsi dari Bintan.
“Di Lingga, sumbernya banyak, debit airnya tinggi, tapi cost-nya besar. Di Bintan, sumbernya terbatas, cost-nya murah. Jikalau memang ada investor yang sanggup atau APBN cukup, kita harus memilih Lingga karena ketersediaan jangka panjangnya relatif lebih menjamin,” katanya.
Guna merealisasikan rencana tersebut, Amsakar mengungkapkan bahwa pihaknya telah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga guna membahas skema pembiayaan, serta kemungkinan menggandeng mitra atau investor untuk membangun sistem penyediaan air baku dari Lingga ke Batam.
“Kami juga sudah tiga kali bertemu dengan Bupati dan Wakil Bupati Lingga. Ini hanya memikirkan bagaimana skema pembiayaan yang paling mungkin, mitra yang paling mungkin untuk masuk ke situ,” ujarnya.
Amsakar meminta agar rencana tersebut tidak berhenti sebagai wacana, saat ini tim BP Batam diminta menyusun roadmap dengan dukungan kajian akademik sehingga dapat diketahui secara jelas kebutuhan investasi, skema pembiayaan, hingga mekanisme penyediaan air baku dari Lingga ke Batam.
“Gambaran sederhana, di tahun 1991 khusus untuk Lingga itu ada kajian, tapi saya lupa angkanya. Yang pasti sudah,” jelasnya.
Menurut Amsakar, tantangan terbesar ada pada besarnya investasi yang dibutuhkan. Kondisi itu membuat calon investor harus menghitung secara cermat tingkat pengembalian modal atau break-even point.
“Angkanya cukup besar investasinya, sehingga kalau kita mau gandeng investor, mereka mempertimbangkan dengan cermat soal break-even point-nya. Kapan akan kembali ke titik pengembalian modalnya,” ujarnya.
Selain rencana distribusi air dari Kabupaten lain di Provinsi Kepri, Amaakar juga menerangkan setidaknya ada tiga langkah yang perlu dilakukan untuk memperkuat ketahanan air Batam.
Pertama, mencari sumber air baku alternatif. Kedua, membangun waduk atau bendungan baru. Ketiga, membangun sistem pemantauan distribusi air secara real time melalui Supervisory Control and Data Acquisition (SCADA).
Terkait pembangunan waduk baru dinilai bukan solusi yang bisa menjawab kebutuhan dalam waktu dekat. Pembangunan waduk baru membutuhkan waktu setidaknya tujuh tahun hingga dapat beroperasi.
Waktu tersebut diprediksi dapat lebih panjang jika waduk yang dibangun memiliki kapasitas dan luasan yang lebih besar.
“Problemnya juga ada, karena membuat waduk baru itu baru dapat operasional paling cepat tujuh tahun. Kalau luasannya makin besar, dia menjadi air tawar itu lebih lama lagi tahunnya,” ujarnya.
Sembari menyiapkan solusi jangka panjang, BP Batam juga melakukan sejumlah langkah cepat untuk mengatasi persoalan distribusi air di sejumlah wilayah. Salah satunya melalui interkoneksi jaringan air dari Waduk Duriangkang menuju Nongsa.
Amsakar memastikan pekerjaan interkoneksi tersebut telah selesai dan air sudah mulai didistribusikan ke wilayah Nongsa.
“Sudah selesai, sebelum sampai ke sini. Malam kemarin sudah selesai dan sekarang sudah distribusi,” katanya.
BP Batam, selanjutnya akan mendorong penggunaan booster untuk meningkatkan tekanan air agar distribusi ke rumah-rumah tersebut lebih cepat dan optimal. Selain terus mengejar penyelesaian persoalan air di sejumlah kawasan yang masuk dalam 18 wilayah prioritas atau stress area.
Amsakar mengatakan, sejumlah pekerjaan sudah dilakukan, antara lain peningkatan kapasitas Instalasi Pengolahan Air (IPA) dari sekitar 2 liter per detik menjadi 5 liter per detik serta pembangunan jaringan perpipaan menuju wilayah Sengkuang.
Menurut Amsakar, langkah-langkah tersebut merupakan bagian dari upaya jangka pendek sambil BP Batam menyusun strategi ketahanan air Batam untuk jangka panjang.
“Kita menangani yang parsial ini, di samping itu tim sedang bekerja terutama untuk menuntaskan roadmap soal air,” ujarnya.
Amsakar menegaskan, persoalan air Batam tidak cukup hanya diselesaikan dengan memperbaiki jaringan ketika gangguan terjadi. Sistem penyediaan air juga harus memiliki kemampuan mendeteksi persoalan secara cepat.
Karena itu, BP Batam berencana menghidupkan kembali sistem SCADA agar kondisi jaringan dapat dipantau secara real time.
“Jadi opsi yang ketiga yang juga harus dipikirkan itu bagaimana agar ketika ada problem real time dapat dilihat. Jadi SCADA itu harus dibuat kembali,” tegasnya.
Sebelumnya, potensi krisis air di Kota Batam, Kepulauan Riau mencuat setelah aksi puluhan ibu rumah tangga dari kawasan Kavling Bakau Serip, Sambau, Nongsa, menutup akses masuk kawasan Nongsa Digital Park, Senin 5 Oktober 2026. Mereka memprotes air bersih yang mati lebih dari tiga bulan dan terpaksa mengandalkan air tangki yang berbau dan keruh yang disediakan oleh PT Air Batam Hilir (ABH).
Warga mulai berkumpul di depan gerbang sekitar pukul 06.00 WIB. Mereka duduk di depan pintu masuk dan mendirikan tenda sederhana untuk menutup akses. Aksi itu mengubah kawasan ekonomi khusus tersebut menjadi lokasi orasi warga.
“Kami demo supaya air kami mengalir, kami tidak mau lagi air tangki, airnya kotor, keruh, bau. Intinya kami cuma mau air,” kata Dewi Susanti, warga Kavling Bakau Serip.
Selain tidak dapat menikmati air sebagai keburu dasar, Dewi menyebut bahwa warga masih diwajibkan untuk membayar tagihan. Warga bahkan mengaitkan matinya air dengan keberadaan pusat data atau data center kawasan ekonomi khusus Ningsa Digital Park.
“Semenjak ada data center, air kami tidak mengalir,” ujar Dewi.
Terpisah, Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano mengatakan untuk data center yang telah beroperasi di kawasan yang dimaksud, sebagian memiliki sistem pengolahan air sendiri. Salah satunya berada di kawasan Kabil Industrial Estate (KIE).
Denny menyebut, persoalan utama yang menyebabkan pasokan air menurun saat ini adalah kondisi kemarau yang diperparah fenomena El Nino.
Denny juga membantah anggapan bahwa kebutuhan air dari data center menjadi penyebab berkurangnya pasokan air masyarakat.
Kondisi tersebut membuat debit air di Waduk Nongsa turun signifikan. Penurunan itu berdampak langsung terhadap kapasitas produksi air untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Ia menjelaskan, dalam kondisi normal, instalasi pengolahan air di Nongsa mampu memproduksi sekitar 90 liter per detik (LPS), namun saat ini produksinya hanya sekitar 25 LPS.
“Saat ini mereka semua sedang menyiapkan SWRO. Kalau yang sudah jalan, contoh di sini, mereka dapat dari pengolahan mereka sendiri di KIE,” ujarnya, Senin (5/10/2026) malam. (Nando)
















