Bunda Tanah Melayu dan Tempat Eksotis yang Masih Belum Terjamah

Bunda Tanah Melayu
Seorang pengunjung menyusuri Pantai Dungun, salah satu destinasi wisata bahari di Kabupaten Lingga. Foto: AlurNews.com

Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) yang disebut sebagai Bunda Tanah Melayu menyimpan berbagai lokasi bersejarah terkait perkembangan Kesultanan Riau Lingga hingga lokasi wisata alam yang menawarkan ketenangan.

Partahi Fernando Wilbert Sirait
LINGGA

Lingga memiliki dua pulau utama, yakni Pulau Dabo Singkep sebagai pulau yang merupakan pusat bisnis serta Pulau Daik yang merupakan ibukota Kabupaten Lingga yang menyimpan banyak bukti sejarah perkembangan Kesultanan Riau Lingga.

Selain itu, Daik juga dikenal memiliki potensi wisata yang menawarkan keindahan alam mulai dari kawasan pesisir hingga pedalaman, yang menjadi daya tarik bagi wisatawan lokal maupun wisatawan asal Malaysia yang kerap berkunjung dan belajar sejarah Melayu di Lingga.

Tugu Khatulistiwa, Titik Temu Sejarah Melayu dan Masa Depan Wisata

Berkunjung ke Pulau Daik, Anda akan langsung disuguhkan sebuah tugu yang kental dengan nuansa Melayu yang tidak jauh dari Pelabuhan Sei Tenam. Terletak di wilayah Tanjung Teludas, Desa Mentuda, Kecamatan Lingga, Pulau Daik, tugu ini bukan hanya penanda geografis bahwa wilayah Pulau Lingga dilintasi garis lintang nol derajat, tapi juga menjadi pintu masuk wisata untuk mengenal lebih jauh alam, sejarah dan kebudayaan Melayu di Bunda Tanah Melayu.

Staf Dinas Kebudayaan Kabupaten Lingga bidang sejarah, pelestarian cagar budaya dan permuseuman, Lazuardi yang menjadi pendamping perjalanan di Lingga menyebut bahwa Tugu Khatulistiwa ini memiliki arti penting dari sisi geografis.

“Pada masa Kesultanan dulu, titik ini juga digunakan sebagai wilayah untuk memantau kapal asing yang masuk ke wilayah Kesultanan,” jelas Lazuardi, Rabu (12/8/2026).

Menurut Lazuardi, Tugu ini dirancang dengan berbagai makna, bentuk bingkai pada tugu menggambarkan peta global. Busur panah menggambarkan arah utara dan selatan, sedangkan pasak di bagian tengah menjadi simbol titik nol atau garis khatulistiwa.

Ada pula unsur keris yang menjadi simbolisasi tugu. Lazuardi menerangkan keris yang berada di tengah Tugu bukan sekadar ornamen, namun menunjukkan senjata tradisional Kesultanan sehingga memiliki keterkaitan erat dengan identitas Melayu.

“Untuk saat ini, wisatawan tidak dikenakan biaya masuk ke wilayah Tugu Khatulistiwa karena ini adalah titik awal sebelum menuju berbagai lokasi sejarah lain disini” ujarnya.

Air Terjun Resun, Pesona Keindahan Alam di Bawah Kaki Gunung Sepingkan

Air Terjun Resun berada di Desa Resun, Kabupaten Lingga, menjadi salah satu spot favorit wisata di Lingga. Foto: AlurNews.com

Air Terjun Resun yang berada di Desa Resun, Kabupaten Lingga, menjadi destinasi wisata alam yang ramai dikunjungi. Berada di kawasan Gunung Sepingkan, air terjun ini menawarkan panorama hutan, aliran air jernih, serta akses yang relatif mudah.

Menurut Lazuardi, masyarakat menyebut Air Terjun Resun memiliki lima hingga tujuh tingkatan. Sebagian masyarakat menghitung lima tingkat pada bagian air terjun utama, sementara lainnya meyakini alirannya mencapai tujuh tingkatan hingga ke bagian atas sungai.

“Air Terjun Resun merupakan bagian dari bentang alam pegunungan Lingga. Selain Gunung Sepingkan, Lingga juga memiliki Gunung Daik dan Gunung Tanda yang masing-masing memiliki aliran sungai dan air terjun,” jelasnya.

Berbeda dengan air terjun lain di Lingga, Air Terjun Resun sudah dapat dijangkau kendaraan hingga kawasan wisata. Kemudahan akses membuat destinasi ini lebih mudah dikunjungi wisatawan, terutama pada akhir pekan dan hari libur.

Wisatawan saat ini cukup membayar sekitar Rp2.000 untuk masuk ke kawasan Air Terjun Resun, ditambah biaya parkir.

Pantai Dungun Lingga Tempat Penyu Bertelur

Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), memiliki sejumlah destinasi wisata bahari yang masih alami. Salah satunya Pantai Dungun di Kecamatan Lingga Timur, Pulau Lingga.

Pada periode tertentu, terutama sekitar Maret, kawasan pantai menjadi tempat penyu bertelur. Wisatawan yang datang pada waktu yang tepat berkesempatan menyaksikan pelepasan penyu.

Pantai Dungun memiliki garis pantai lebih dari satu kilometer dengan hamparan pasir halus yang semakin luas ketika air laut surut.

“Hamparannya sangat luas saat air surut, berpasir halus, dan panjang pantainya lebih dari satu kilometer,” ujar Lazuardi.

Pantai Dungun menghadap langsung ke Laut China Selatan atau Laut Natuna. Saat musim angin utara, wisatawan dapat menyaksikan ombak besar dari laut lepas, dan bahkan bisa olahraga surfing.

Ketika air laut surut, kawasan pantai dapat menjadi tempat masyarakat maupun wisatawan menikmati aktivitas pesisir secara tradisional, termasuk mencari hasil laut di sekitar karang.

Nama Pantai Dungun berasal dari Kampung Dungun yang berada di sekitar kawasan pantai. Penamaan tersebut berkaitan dengan vegetasi lokal berupa pohon yang dikenal masyarakat sebagai pohon dungun atau bakau.

“Hingga saat ini, pengunjung belum dikenakan biaya masuk maupun retribusi resmi untuk menikmati Pantai Dungun,” jelas Lazuardi.

Kain Telepuk Lingga, Warisan Melayu-Bugis yang Bertahan Sejak Era Sultan Muhammad Syah

Daik, Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), tidak hanya menyimpan jejak sejarah kerajaan Melayu, tetapi juga warisan budaya berupa kain tradisional yang telah berkembang sejak abad ke-19.

Salah satunya kain telepuk atau telepok, kain tradisional yang menurut catatan sejarah telah dikenal sejak masa pemerintahan Sultan Muhammad Syah pada 1832-1841 Masehi.

Kain telepuk menjadi salah satu peninggalan budaya yang mencerminkan pertemuan dua tradisi, yakni Melayu dan Bugis.

“Akulturasi tersebut berkembang ketika budaya Melayu dan Bugis memiliki pengaruh kuat dalam kehidupan masyarakat dan pemerintahan di Negeri Bunda Tanah Melayu,” jelas Lazuardi.

Dari Hibah Warga hingga Tulang Gajah Mina di Museum Linggam Cahaya

Pengunjung mengamati koleksi Museum Linggam Cahaya di Kabupaten Lingga. Foto: AlurNews.com

Ribuan benda bersejarah yang tersimpan di Museum Linggam Cahaya, Daik, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, tidak seluruhnya berasal dari pengadaan pemerintah.

Sebagian besar justru datang dari masyarakat yang secara sukarela menyerahkan benda bernilai sejarah dan budaya untuk disimpan serta dirawat di museum.

Staf Dinas Kebudayaan Lingga, Lazuardy, mengatakan koleksi tersebut dihimpun melalui program Gerakan Sayang Budaya.

“Koleksi pada Museum Linggam Cahaya itu sebagian besar merupakan hibah masyarakat,” ujar Lazuardy.

Saat ini, Museum Linggam Cahaya menyimpan sekitar 6.800 koleksi. Benda-benda tersebut menggambarkan berbagai aspek kehidupan masyarakat Lingga, mulai dari sejarah, kebudayaan, hingga perkembangan teknologi.

Koleksinya antara lain berupa keramologi atau keramik, numismatika atau mata uang, heraldika berupa lambang dan tanda jasa, etnografi, serta filologi yang berkaitan dengan manuskrip dan naskah kuno.

Serta salah satu koleksi yang memiliki nilai sejarah tinggi adalah naskah kuno peninggalan Kesultanan Riau-Lingga. Naskah tersebut tidak hanya berisi ajaran agama, tetapi juga merekam pengetahuan dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

“Koleksinya mencakup kitab agama, hukum mahkamah, pengobatan tradisional, hingga karya sastra,” jelasnya.

Selain naskah kuno, Museum Linggam Cahaya menyimpan koleksi yang tidak kalah menarik, yakni tulang Gajah Mina.

Tulang tersebut ditemukan dalam kondisi hanyut di salah satu pantai di Pulau Daik sekitar 2004, setelah peristiwa tsunami Aceh. Benda tersebut kemudian menjadi bagian dari koleksi yang dipamerkan di Museum Linggam Cahaya. (*)