AlurNews.com – Pertumbuhan industri pusat data atau data center di Batam, Kepulauan Riau mulai menuntut kesiapan infrastruktur pendukung, terutama pasokan air bersih dalam jumlah besar.
Untuk mengantisipasinya, Badan Pengusahaan (BP) Batam mendorong investor data center membangun sumber air secara mandiri melalui instalasi pengolahan air laut atau Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).
Deputi Bidang Pelayanan Umum BP Batam, Ariastuty Sirait mengatakan saat ini terdapat 10 perusahaan data center yang telah terdaftar di Batam.
Baca Juga:Â BP Batam Bantah Data Center Penyebab Krisis Air di Nongsa, Sumber Airnya dari KIE
Dengan demikian, maka pihaknya memprediksi investasi pembangunan fasilitas SWRO mencapai Rp400 miliar hingga Rp500 miliar, dengan kapasitas produksi air sekitar 300 liter per detik.
“Investasi untuk SWRO memakan biaya kurang lebih Rp400 miliar sampai Rp500 miliar dengan kebutuhan air estimasi mencapai 300 liter per detik,” jelasnya melalui sambungan telepon, Rabu (4/11/2026) malam.
Dari enam perusahaan di kawasan NDP, dua di antaranya telah menyelesaikan tahap konstruksi, satu perusahaan masih dalam proses pembangunan, sedangkan tiga lainnya masih berada pada tahap perencanaan konstruksi.
Sementara itu, dua perusahaan data center lainnya berada di luar kawasan NDP, saat ini sedang dalam tahap konstruksi. Selain itu, di Kabil Industrial Estate sendiri juga terdapat dua perusahaan data center yang tengah membangun fasilitas.
“Kalau ditanya 10 investor yang masuk dalam daftar perusahaan data center tersebut belum dapat kami beberkan,” jelasnya.
Pihaknya menilai, pertumbuhan industri data center tidak cukup hanya mengandalkan pembangunan gedung dan fasilitas teknologi. Ketersediaan air serta listrik juga harus dipastikan sejak awal investasi.
Untuk itu, BP Batam mendorong penerapan konsep one investment, dimana investor tidak hanya menanamkan modal untuk membangun fasilitas data center, tetapi juga menyiapkan infrastruktur pendukung, termasuk sumber air dan kelistrikan.
Salah satu opsi yang ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan air adalah pembangunan instalasi SWRO, yang memungkinkan air laut diolah menjadi air tawar melalui proses penyaringan dan pemisahan kandungan garam menggunakan membran khusus bertekanan tinggi.
“Investasi untuk perusahaan atau data center, lalu investasi terhadap air dan juga investasi terhadap kelistrikan. Sehingga membawa manfaat yang besar untuk Kota Batam,” ujarnya.
Pembangunan instalasi tersebut diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga tiga tahun. Durasi pengerjaan bergantung pada kapasitas produksi air dan skala fasilitas yang akan dibangun.
Ariastuty menjelaskan, proses pengolahan air laut menjadi air tawar melalui teknologi SWRO terdiri dari lima tahapan.
Tahap pertama adalah pengambilan air laut atau intake melalui pipa khusus, yang dilengkapi penyaringan awal menahan kotoran dan material berukuran besar. Selanjutnya, memasuki tahap pra-pengolahan atau pretreatment, dimana kualitas air disesuaikan sebelum masuk ke membran utama.
Tahapannya meliputi penyaringan partikel, penggunaan teknologi dissolved air flotation, serta penambahan bahan kimia antikerak atau antiscalant.
Tahap ketiga merupakan proses utama, yakni reverse osmosis. Air laut diberi tekanan tinggi agar dapat melewati membran khusus yang memisahkan kandungan garam dan zat terlarut lainnya.
“Ini proses yang mempunyai nilai investasi yang paling tinggi,” jelasnya.
Setelah melewati membran, air memasuki tahap post-treatment atau pengolahan lanjutan. Proses ini mencakup penyesuaian kandungan mineral, desinfeksi, hingga penyimpanan air hasil pengolahan.
Tahap terakhir adalah distribusi. Air yang telah memenuhi standar pengolahan kemudian disalurkan kepada perusahaan data center maupun kawasan ekonomi khusus (KEK) yang membutuhkan pasokan air.
“Air yang telah diolah kemudian disalurkan kepada perusahaan data center maupun kawasan ekonomi khusus (KEK) yang membutuhkan pasokan air,” ujarnya. (Nando)


















